Ini Prediksi Dampak Kenaikan Tarif Terhadap Ekonomi China

Rencana pemerintah Amerika Serikat (AS) untuk menaikkan tarif terhadap barang-barang asal China dinilai dapat memangkas pertumbuhan China sebesar 0,3 poin persentase.
Renat Sofie Andriani
Renat Sofie Andriani - Bisnis.com 10 Mei 2019  |  10:13 WIB
Ini Prediksi Dampak Kenaikan Tarif Terhadap Ekonomi China
Yuan - Bloomberg

Bisnis.com, JAKARTA – Rencana pemerintah Amerika Serikat (AS) untuk menaikkan tarif terhadap barang-barang asal China dinilai dapat memangkas pertumbuhan China sebesar 0,3 poin persentase.

Penasihat Bank Sentral China, Ma Jun, pada Jumat (10/5/2019) berpendapat bahwa pemerintah China akan melancarkan langkah-langkah balasan jika Presiden AS Donald Trump menindaklanjuti rencana untuk meningkatkan tarif menjadi 25 persen dari 10 persen terhadap impor China senilai US$200 miliar.

“Dampak negatif dari skenario ini terhadap produksi domestik bruto China akan [memangkas] sekitar 0,3 poin persentase, ini berada dalam kisaran yang terkendali,” ungkap Ma, seperti dikutip Reuters.

Ia juga menuturkan bahwa ekonomi China yang menguat telah menjadi lebih tahan terhadap guncangan-guncangan eksternal.

Selain itu, pasar saham China disebut memiliki kemungkinan sangat kecil untuk mengalami aksi jual besar-besaran seperti tahun lalu setelah perang perdagangan dengan AS dimulai.

Menurut Ma, investor sebelumnya cenderung bereaksi berlebihan karena ketidakmampuan untuk menilai dampak nyata dari friksi perdagangan dan kegelisahan atas perlambatan pertumbuhan ekonomi.

“Kinerja ekonomi riil China telah meningkat secara signifikan dalam beberapa bulan terakhir. Lingkungan makroekonomi dan kebijakan China saat ini akan membantu pasar meningkatkan ketahanannya terhadap guncangan-guncangan eksternal baru,” lanjutnya.

Dia juga mengatakan bahwa Bank Sentral China memiliki alat kebijakan moneter yang cukup untuk mengatasi ketidakpastian internal dan eksternal saat ini.

Bank Sentral China pun akan berupaya untuk menyempurnakan kebijakan sesuai dengan perubahan dalam situasi ekonomi negara.

Komentar Ma tersebut dipublikasikan oleh Finance News, sebuah surat kabar yang dijalankan oleh bank sentral, pada Jumat ketika para pejabat AS dan China mengadakan perundingan pada menit-menit terakhir untuk mencegah eskalasi perang dagang yang mengancam akan mengganggu ekonomi global.

Perundingan antara Wakil Perdana Menteri China Liu He, Perwakilan Dagang AS Robert Lighthizer, dan Menteri Keuangan AS Steven Mnuchin digelar selama 90 menit pada Kamis dan akan berlanjut pada Jumat (10/5).

Sebelum kedua belah pihak kembali ke meja perundingan pada Jumat, Amerika Serikat telah akan menaikkan tarifnya terhadap impor China. Tarif ini berlaku untuk kargo-kargo yang meninggalkan Negeri Tirai Bambu setelah pukul 12 malam (Jumat, 10/5) waktu setempat.

Kepada media pemerintah China setelah tiba di Washington, Wakil Perdana Menteri Liu He mengatakan bahwa akan sangat tidak menguntungkan kedua belah pihak jika tarif dinaikkan.

“Kami datang di bawah tekanan. Ini menunjukkan ketulusan terbesar China serta keinginan yang tulus, percaya diri, dan rasional untuk menyelesaikan ketidaksepakatan atau perbedaan tertentu yang dihadapi China dan Amerika Serikat. Saya pikir ada harapan,” ungkap Liu.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
ekonomi china, perang dagang AS vs China

Editor : Mia Chitra Dinisari

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya



Top