META Raih Izin Studi Ruas Cikunir - Ulujami

Dalam prakarsa pengusahaan jalan tol Cikunir - Ulujami Elevated, META bermitra dengan tiga badan usaha, yaitu PT Triputra Utara Selaras, PT Adhi Karya Tbk., PT Acset Indonusa Tbk. META bersama Triputra menjadi pemimpin konsorsium dengan porsi saham 85 persen.
Rivki Maulana
Rivki Maulana - Bisnis.com 29 April 2019  |  06:55 WIB

Bisnis.com, JAKARTA -- Langkah PT Nusantara Infrastructure Tbk. atau META untuk mendapat persetujuan prakarsa jalan tol baru di Jakarta semakin dekat. Perseroan telah mendapat restu dari Kementerian Pekerjaan Umum & Perumahan Rakyat (PUPR) untuk menyusun studi kelayakan pada ruas Cikunir - Ulujami.

General Manager Corporate Affairs Nusantara Infrastructure Deden Rochmawaty mengatakan izin studi untuk perseroan sudah diterbitkan sejak Desember 2018. Adapun, dalam catatan Bisnis.com, prakarsa pengusahaan jalan tol Cikunir - Ulujami sepanjang 28,86 kilometer diajukan pada Juni 2018. Rencananya, jalan tol ini akan dibangun dengan konstruksi layang.

"Kami sudah mendapatkan persetujuan untuk melaksanakan FS [Feasibility Study] ruas Cikunir-Ulujami  yang akan masuk dalam jaringan Jakarta Outer Ring Road (JORR) III," jelas Deden kepada Bisnis, baru-baru ini.

Sebagaimana diketahui, izin untuk melaksanakan studi merupakan satu tahap yang harus ditempuh insiator sebelum mendapatkan izin prakarsa pembangunan jalan tol. Persetujuan prakarsa selanjutnya akan berlanjut pada tahap pelalangan investasi yang mana kans pemrakarsa untuk memenangkan lelang amat besar.

Berdasarkan ketentuan yang berlaku, pemrakarsa memilki keistimewaan dalam proses pelelangan, yaitu hak menyamakan penawaran atau right to match. Selain itu pemrakarsa juga mendapat bobot penilaian lebih tinggi 10% dibandingkand dengan peserta lain.

Dalam prakarsa pengusahaan jalan tol Cikunir - Ulujami Elevated, META bermitra dengan tiga badan usaha, yaitu PT Triputra Utara Selaras, PT Adhi Karya Tbk., PT Acset Indonusa Tbk. META bersama Triputra menjadi pemimpin konsorsium dengan porsi saham 85 persen.

Deden mengatakan, pihaknya juga sudah mendapat komitmen dari calon penyandang dana untuk mendanai proyek senilai Rp22,5 triliun ini. PT Indonesia Infrastructure Finance (IIF), yang juga pemilik 10% saham META bakal memberikan beberapa alternatif skema pembiayaan jika konsorsium telah mendapat persetujuan prakarsa dari Kementerian PUPR.

Di sisi lain, pengusahaan jalan tol masih penyumbang utama pendapatan META. Sepanjang 2018, pengusahaan jalan tol menyumbang 64,61% terhadap total pendapatan sebanyak Rp782 miliar. Adapun, pendapatan lain disumbang dari sektor telekomunikasi (17,18%), air minum (11,12%), dan energi (7,08%).

Hingga saat ini, META memiliki tiga konsesi jalan tol  yaitu Pondok Ranji - Pondok Aren, Tallo - Bandara Hasanuddin, dan Pelabuhan Soekarno Hatta - Pettarani. Sepanjang 2018, ruas Pondok Ranji - Pondok Aren masih menjadi penyumbang pendapatan di sektor jalan tol, yakni sebesar Rp211,61 miliar.

Di samping tiga ruas dengan kepemilikan mayoritas, META juga telah menambah kepemilikan saham di PT Jakarta Lingkar Baratsatu (JLB) menjadi 35%. JLB merupakan pemegang konsesi ruas Kebon Jeruk - Penjaringan yang merupakan bagian dari jalan tol lingkar luar Jakarta atau Jakarta Outer Ringroad.

Sementara itu, pada ruas jalan tol yang belum beroperasi, META masih fokus mengerjakan konstruksi jalan tol layang A.P. Pettarani di Makassar sepanjang 4,3 kilometer. Jalan tol ini diharapkan beroperasi pada 2020.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
jalan tol, nusantara infrastructure

Editor : M. Rochmad Purboyo

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya



Top