Swasembada Bawang Putih Masih Jauh

Ketika program yang sifatnya mendorong produksi tidak bisa memberikan hasil produksi yang mencukupi secara instan, perlu dilakukan perlakuan impor khusus yang sifatnya sebagai bentuk mitigasi dari gejolak harga yang mungkin terjadi.
Pandu Gumilar
Pandu Gumilar - Bisnis.com 23 April 2019  |  18:26 WIB
Swasembada Bawang Putih Masih Jauh
/Antara/Rahmad

Bisnis.com, JAKARTA - Program swasembada bawang putih dengan mengharuskan importir menanam ditengarai menjadi buntut meningkatnya harga komoditas itu jelang Ramadhan.

Peneliti Center for Indonesian Policy Studies (CIPS) Assyifa Szami Ilman mengatakan saat ini importir bawang putih perlu melakukan wajib tanam sebanyak 5 persen dari kebutuhan impornya dalam rangka mencapai swasembada.

"Namun hingga saat ini, swasembada masih jauh dari jangkauan untuk bawang putih dan Indonesia masih menjadi importir bawang putih terbesar di dunia dengan nilai impor mencapai 582.900 ton,” katanya dalam siaran resmi Selasa (23/4/2019).

Menurutnya, ketika program yang sifatnya mendorong produksi tidak bisa memberikan hasil produksi yang mencukupi secara instan, perlu dilakukan perlakuan impor khusus yang sifatnya sebagai bentuk mitigasi dari gejolak harga yang mungkin terjadi.

Impor khusus yang sifatnya dilakukan pada saat-saat tertentu ini diharapkan bisa dilakukan tanpa menghadapi birokrasi yang menyulitkan, misalnya seperti wajib tanam tersebut. Oleh karena sifatnya mitigasi, lanjut Ilman, pemerintah dapat terlibat untuk melakukan kalkulasi dari segi waktu importasi dan juga jumlah yang sekiranya diperlukan untuk meng-counter kenaikan harga yang tidak terkendali.

Pemerintah dapat melibatkan berbagai pihak, dari Bulog maupun swasta, untuk melakukan importasi tersebut. Selain itu, untuk mengantisipasi adanya penyalahgunaan izin impor dan kekhawatiran impor akan membunuh petani lokal, peran satgas pangan dapat diperkuat untuk mengawasi importasi khusus ini.

"Kita harus mengakui bahwa produksi lokal belum mencukupi permintaan yang ada, sehingga impor tetap harus dilakukan. Di sisi lain, pemerintah juga tetap konsisten mempertahankan prinsip kehati-hatiannya dalam mengeluarkan kebijakan. Namun ada kalanya, aturan-aturan tertentu dapat menghambat dilakukannya impor yang sebenarnya dibutuhkan," katanya.

Dia mengharapkan peluang adanya alternatif kebijakan impor khusus tanpa mengikuti regulasi berlaku yang memberatkan seperti wajib tanam akan dapat dilakukan terutama untuk yang sifatnya pencegahan gejolak harga.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
Bawang Putih

Editor : M. Rochmad Purboyo

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya



Top