Ketersediaan obat 2018 Susut, Kimia Farma Raih Rekor Tertinggi Utilitas Pabrik

Di tengah ketersediaan obat 2018 yang susut 1%-2%, PT Kimia Farma (Persero) Tbk. berhasil mencapai level utilisasi pabrik ke rekor tertinggi perseroan dengan peningkatan volume produksi hingga 10% pada tahun lalu.
Andi M. Arief | 26 Maret 2019 19:00 WIB
Pabrik Kimia Farma di Pulogadung, Jakarta. - Kimia Farma

Bisnis.com, JAKARTA – Di tengah ketersediaan obat 2018 yang susut 1%-2%, PT Kimia Farma (Persero) Tbk. berhasil mencapai level utilisasi pabrik ke rekor tertinggi perseroan dengan peningkatan volume produksi hingga 10% pada tahun lalu.

Financial Director PT Kimia Farma (Persero) Tbk. I.G.N. Suharta Wijaya menyampaikan bahwa perseroan mencatat level utilisasi pabrik ke rekor tertinggi perseroan. Alhasil, volume produksi perseroan naik hingga 10% pada tahun lalu.

“Kami beruntung, untuk bahan baku kami ada lock dari 2 tahun sebelumnya. Dan memang [kami ada menang] tender,” ucapnya kepada Bisnis, Selasa (26/3/2019).

Suharta menambahkan perseroan tidak menghadapi masalah pemesanan obat pada tahun lalu. Oleh karena itu, perseroan akan menggenjot produksi obat pada tahun ini. Salah satu pendorong pertumbuhan produksi pada tahun ini, menurutnya, adalah pengoperasian pabrik perseroan di Banjaran akan mulai beroperasi pada semester II/2019.

Namun, lanjutnya, utilisasi pabrik di Banjaran belum maksimal karena harus mengurus nomor izin edar di setiap cabang distributor perseroan. Perseroan, menurutnya, memprediksi utilisiasi pabrik Banjaran baru dapat dimaksimalkan tahun depan. Sementara itu, Suharta menargetkan produksi volume obat perseroan setidaknya dapat naik 10% hingga akhir tahun.

“Baru mungkin pada 2020 paling tidak 20% pertumbuhan total produksi,” paparnya.

Suharta mengutarakan perseroan belum akan mendirikan pabrik dalam waktu dekat. Akan tetapi, ujarnya, perseroan tidak menutup kemungkinan untuk melakukan akuisisi dan merger pabrik yang dapat melengkapi produk perseroan. “Ada beberapa [yang sedang berdiskusi untuk merger atau akuisisi].”

Gabungan Pengusaha Farmasi Indonesia (GP Farmasi) menghitung ketersediaan obat pada tahun lalu susut yakni 1%--2%. Asosiasi pun menyatakan fenomena tersebut jarang terjadi di industri farmasi.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
kimia farma, Industri Obat, GP Farmasi

Editor : Fatkhul Maskur

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya



Top