The Loggia Kondominium Andalkan Desain Indonesia Jepang

Farpoint meluncurkan konsep desain unik kolaborasi budaya Jepang dan Indonesia pada proyek The Loggia yang akan dimulai pembangunannya pada kuartal ketiga 2019.
Putri Salsabila
Putri Salsabila - Bisnis.com 14 Maret 2019  |  16:41 WIB

Bisnis.com, JAKARTA-- Farpoint meluncurkan konsep desain unik kolaborasi budaya Jepang dan Indonesia pada proyek The Loggia yang akan dimulai pembangunannya pada kuartal ketiga 2019.

Head of Residential SBU dan head of project management FARPOINT, Mulyadi Janto mengatakan bahwa ini adalah hasil kerjasama antara Farpoint bersama Tokyo Tatemono yang didasari oleh visi yang sama. 

"Kita mengetahui hunian yang baik adalah hunian yang memiliki pertukaran udara, dimana fresh air masuk terus menerus. ini lah konsep utama yang kita bangun dalam kondominium ini," ujarnya pada Opening Marketing Gallery The Loggia Duren Tiga, Jakarta Selatan, Kamis (14/3/2019).

Hal itu menjadi salah satu alasan mengapa kondominum bernama The Loggia. The Loggia diambil dari suatu terminologi arsitektur dari bahasa italia yang artinya ruangan diantara dua bangunan sehingga memiliki sikulasi udara yang baik.

Selain itu, The Loggia memiliki desain yang khusus diciptakan oleh arsitektur ternama dunia Yoshiharu Tsukamoto, Co-principal Architect Atelier Bow-Wow sekaligus Profesor Tokyo Institute of Technology, Dr Eng.

Sebelum menciptakan konsep desain, Tsukamoto-san melakukan riset ke beberapa wilayah Jakarta untuk memahami budaya serta kebiasaan masyarakat agar mampu menciptakan ruangan yang disesuaikan dengan karakter serta kebutuhan ruangan penghuni.

Konsep ini adalah Reversibility into Emptiness, yaitu bagaimana setiap elemen yang ada bisa memberikan nilai untuk ruangan. Sinar matahari masuk, dinding rotan,  sirkulasi udara, dan furniture yang dapat dilipat sehingga semakin memberikan ruangan yang lebih luas.

"Sinar matahari memancarkan pantulan di lantai ubin ke langit-langit, bias cahaya melalui dinding rotan, atau angin yang bertiup melalui jendela ke koridor. Gerakan dan transformasi furniture ini merupakan momen nyata yang bisa dieksplorasi, salah satunya lewat meja makan yang dapat dilipat di dinding," ujarnya.

Tsukamoto-san menambahkan bahwa hasil dari desain ini dapat membuat ruang makan pun bisa berubah menjadi ruang komunal untuk mengumpulkan lebih dari 10 orang. Suasana multi-sensory seperti ini yang penting untuk menyegarkan pikiran tiap penghuni.

Konsep unit ini juga terinspirasi dari konsep Jepang yang memiliki desain kaya dengan kayu serta rotan. Tak hanya itu untuk kenyamanan maksimal, Tsukamoto-san memberikan sentuhan Indonesia kedalam desainnya, seperti ubin kunci yang memiliki kesan vintage dari Yogyakarta.

Rencana peletakan batu pertama akan dilakukan pada kuartal ketiga tahun ini. Kondominium ditargetkan akan selesai pembangunannya pada 2022 dengan target penjualan sebanyak 10%-50% dari total unit.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
kondominium, Retail Farpoint

Editor : M. Rochmad Purboyo

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya



Top