Produk Organik Indonesia Diminati Pasar AS

Produk organik Indonesia meraup potensi transaksi hingga US$7,98 juta atau sekitar Rp114 miliar (kurs tengah Rp14.253/dolar AS) dari pameran Natural Product Expo West (NPEW) yang berlangsung pada 7-9 Maret 2019 di Anaheim Convention Center, di Los Angeles, Amerika Serikat.
Fajar Sidik | 14 Maret 2019 12:41 WIB
Berbagai produk yang ditampilkan di Paviliun Indonesia adalah varian teh dari Lebak Banten yang telah mendapatkan sertifikasi organik dari badan IMO Switzerland. (istimewa)

Bisnis.com, JAKARTA - Produk organik Indonesia meraup potensi transaksi hingga US$7,98 juta atau sekitar Rp114 miliar (kurs tengah Rp14.253/dolar AS) dari pameran Natural Product Expo West (NPEW) yang berlangsung pada 7-9 Maret 2019 di Anaheim Convention Center, di Los Angeles, Amerika Serikat.

Tren gaya hidup sehat yang berkembang pesat di AS dimanfaatkan Indonesia Trade Promotion Center (ITPC) untuk membidik potensi pasar produk organik. Empat perusahaan makanan dan minuman organik Indonesia berpartisipasi dalam pameran produk herbal itu yang berlangsung pada 7-9 Maret 2019.

“Lokasi Paviliun Indonesia yang strategis, berada di Main Hall dan juga berlokasi di kategori khusus produk organik, berkontribusi dalam pencapaian transaksi potensial yang mencapai hampir USD 8 juta,” kata Antonius A. Budiman, Kepala ITPC Los Angeles dalam siaran pers yang diterima Bisnis.com, Kamis (14/3/2019).

Main Hall merupakan lokasi yang prestisius karena menjadi tujuan buyer Premium (baik dari AS, Kanada, Inggris, Australia, Jepang dan Hongkong) untuk mencari produk baru. Selain itu, lokasi organik yang ditempati oleh Paviliun Indonesia juga semakin menambah kredibilitas produk Indonesia di mata para buyer.

NPEW merupakan pameran khusus produk alami dan organik terbesar di dunia, yang kali ini diikuti oleh 3.690 peserta pameran dan dihadiri ratusan ribu pengunjung dari berbagai negara. Setiap tahunnya ajang pameran ini dikunjungi oleh buyer premium yang bukan hanya dari AS, namun juga dari negara-negara di Amerika Latin, Kanada, Australia, dan sebagainya.

Berbagai perusahaan manufaktur besar seperti Unilever, Nestle dan Pepsi Co. juga hadir untuk memenuhi kebutuhan supply produknya. Selain itu, tentunya berbagai distributor besar dan wholesaler seperti Costco, Kroeger, Albertson, Safeway juga hadir untuk melihat inovasi dan trend terbaru dari industri natural dan organik, sehingga NPEW menjadi tempat yang tepat untuk menampilkan produk organik unggulan Indonesia.

Paviliun Indonesia yang terletak di booth 2695 terdiri dari 4 (empat) perusahaan, yaitu Harendong Green Farm, Mega Inovasi Organik , Mega Organik Indonesia , serta IMC Coconut. Keseluruhan perusahaan yang ikut dalam pameran telah melewati proses kurasi yang selektif dari manajemen pameran, guna memastikan para peserta telah memiliki kualitas produksi yang baik, sustainable, serta memiliki sertifikasi organik yang diakui secara internasional.

Berbagai produk yang ditampilkan di Paviliun Indonesia adalah varian Green Tea, Black Tea, dan Oolong Tea dari Lebak, Banten, yang telah mendapatkan sertifikasi organik dari badan IMO, Switzerland. Selain itu juga produk keripik yang terbuat dari 100% sweet potato chips natural tanpa pengawet, yang telah berhasil memenangkan Sofi Award 2018 dari Specialty Food Association.

Coconut sugar organik Indonesia juga menjadi produk yang menarik perhatian para buyer. Selain itu, Paviliun Indonesia juga menampilkan buah salak yang memikat pengunjung, karena rasa dan tampilannya yang unik. Berbagai rempah organik juga memperkaya variasi produk organik yang ditawarkan.

“Transaksi potensial dan buyer pameran ini jauh melebihi pameran sejenis lainnya di AS. Ini merupakan pameran terbaik untuk produk alami dan organik, sangat targeted, selected, dan buyer yang datang juga sangat berkualitas,” ujar Mario dari IMC Coconut Sugar dengan sangat antusias.

Berdasarkan pengamatan selama pameran, produk natural dan organik Indonesia masih berpotensi sangat besar untuk memasuki pasar AS yang saat ini mengutamakan gaya hidup sehat. Tren vegan misalnya, pola makan yang tidak mengkonsumsi daging, dairy produk seperti susu dan keju, termasuk telur menciptakan potensi pasar bagi produk makanan dan minuman yang berbahan dasar tanaman (plant based food).

Pengunjung juga banyak menyukai produk dengan kemasan individual dan praktis, dan langsung dapat dinikmati seperti Fruit Jerky, Protein Bars, Protein Bites, Fruit Bites, dan sebagainya. Harapannya di masa mendatang akan semakin banyak perusahaan Indonesia yang memanfaatkan trend natural dan organik ini, sehingga produk makanan dan minuman Indonesia semakin berkualitas dan mendapat harga premium di pasar AS.

Paviliun Indonesia juga menampilkan buah salak yang memikat pengunjung, karena rasa dan tampilannya yang unik. (foto: istimewa).

Ekspor Mamin Indonesia

Ekspor produk teh, kopi dan rempah Indonesia berada diurutan ke-5 ke AS untuk kategori Teh, Kopi dan Rempah. Pengekspor utama lainnya adalah Kolombia (US$1,2 miliar), Brazil (US$993,2 juta), Vietnam (US$604,8 juta), Madagascar (US$521,7 juta), dan Kanada (US$465,3 juta).

Sementara itu, ekspor gula Indonesia ke AS, di luar gula tebu sukrosa dan termasuk gula dari kelapa, meningkat menjadi US$35,3 juta di 2018 dalam tiga tahun dari US$23,9 juta di 2016, atau meningkat sejumlah 11,4%.

Indonesia memegang peringkat pertama sebagai pengekspor gula, diikuti oleh dua pesaing lainnya yaitu RRC (US$12,8 juta), Chile (US$9 juta). Ekspor produk kelapa kering Indonesia ke AS meningkat 73,07% di 2018 menjadi US$707 juta dari US$408,5 juta di 2017.

Indonesia merupakan pengekspor ke-5 ke AS untuk produk kelapa kering. Pengekspor utama lainnya adalah Filipina (US$91,6 juta), Sri Lanka (US$14 juta), Dominican Republic (US$2,4 juta), Vietnam (US$2,3 juta), dan Thailand (US$695,7 juta).

Tag : ekspor nonmigas, produk herbal
Editor : Fajar Sidik

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya



Top