Cari berita
  • facebook
  • twitter
  • instagram
  • youtube
Bisnis.com

Konten Premium

Epaper Bisnis Indonesia tokotbisnis Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group bisnis tv bisnismuda

Qantas Group Pangkas Pemakaian Plastik dan Daur Ulang Sampah

Qantas Group berencana menjadi maskapai pertama di dunia yang mendaur ulang kompos setidaknya tiga perempat sampahnya yang menuju tempat pembuangan akhir pada penghujung tahun 2021.
Mia Chitra Dinisari
Mia Chitra Dinisari - Bisnis.com 03 Maret 2019  |  08:58 WIB
Qantas Group Pangkas Pemakaian Plastik dan Daur Ulang Sampah
Logo maskapai penerbangan Qantas - Reuters
Bagikan

Bisnis.com, JAKARTA - Qantas Group berencana menjadi maskapai pertama di dunia yang mendaur ulang kompos setidaknya tiga perempat sampahnya yang menuju tempat pembuangan akhir pada penghujung tahun 2021.

CEO Qantas Group Alan Joyce mengatakan, komunitas bisnis memiliki tanggung jawab untuk berkontribusi dalam mengatasi masalah lingkungan.

 “Dengan kapasitas penumpang sebesar 50 juta orang setiap tahunnya, kami menghasilkan lebih dari 30.000 ton sampah, atau setara dengan berat 80 pesawat 747,” kata Joyce dalam siaran persnya.

 “Kami kini telah menghapus penggunaan sedotan plastik maupun plastik pembungkus piyama dan headset. Bahkan, kami juga melakukan peralihan kartu Frequent Flyer fisik, yang berbahan dasar plastik, menjadi digital. Dengan besarnya skala operasi kami, langkah-langkah sederhana ini sesungguhnya berkontribusi mengeliminasi jutaan sampah plastik. Lebih dari itu, masih banyak lagi yang bisa kami lakukan di kemudian hari.”

Beberapa contoh perubahan yang akan diterapkan oleh Qantas, QantasLink, dan Jetstar mulai tahun ini adalah:

Menggunakan gelas kopi yang dapat didaur ulang atau diubah menjadi kompos
Menghapus penggunaan plastik-sekali-pakai dan beralih pada kemasan ramah lingkungan
Beralih dari penggunaan dokumen fisik dalam wujud kertas menuju digital, misalnya untuk boarding pass dan buku petunjuk
Menyumbangkan kelebihan makanan atau mengubahnya menjadi kompos
Mendaur ulang seragam lama

Untuk memenuhi target pengurangan 100 juta plastik-sekali-pakai per tahun, Qantas Group akan mengganti penggunaan 45 juta gelas plastik, 30 juta set alat makan, 21 juta gelas kopi, dan 4 juta penutup sandaran kepala dengan bahan alternatif ramah lingkungan pada akhir tahun 2020. Daftar ini melampaui pembatasan yang dikeluarkan oleh Uni Eropa, baik dari luasnya cakupan maupun kecepatan waktu implementasi.

Sebelumnya, Qantas Group telah menetapkan target pengurangan 30% sampah yang menuju tempat pembuangan akhir pada tahun 2020. Qantas Group telah mampu untuk mencapai target tersebut melalui program daur ulang dan sejumlah program lainnya. Kini, target tersebut telah meningkat menjadi 75%. Di samping itu, Qantas memiliki target-target terpisah terkait penggunaan bahan bakar, air, dan listrik. Qantas juga memiliki skema offset karbon terbesar di antara maskapai lainnya di dunia.

Maskapai memiliki kewajiban hukum untuk memusnahkan beberapa materi seperti makanan yang dikarantina dari penerbangan internasional dan barang berbahaya lainnya. Dengan dukungan dari para pelaku industri dan otoritas terkait, Qantas Grup percaya perusahaan juga dapat mengurangi volume limbah tersebut. Namun, beberapa plastik-sekali-pakai, seperti pembungkus yang bersifat higienis serta sejumlah wadah tahan panas untuk mempersiapkan makanan di atas pesawat, saat ini tidak memiliki alternatif yang ramah lingkungan.

Qantas dan Jetstar terus bekerja sama dengan pihak produsen maupun maskapai lain untuk mendorong inovasi di bidang tersebut agar dapat memangkas sampah yang menuju tempat pembuangan akhir.

 “Tak banyak industri yang bisa 100% menghapus produksi limbah mereka. Namun, melalui program ini, kami menegaskan bahwa sampah yang dapat dihindari seharusnya tidak lagi menjadi produk sampingan dari operasi kami.” tambah Joice.

 

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Simak Video Pilihan di Bawah Ini :

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

qantas
Editor : Mia Chitra Dinisari
Bagikan

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Lainnya

Berita Terkini

back to top To top