Kesenjangan Harga Rumah Makin Lebar

Adanya lonjakan likuiditas global karena kondisi finansial yang makin akomodatif, membuat harga rumah di negara berkembang makin lama makin sama dan pertumbuhannya saling terhubung.
Mutiara Nabila
Mutiara Nabila - Bisnis.com 26 Februari 2019  |  07:17 WIB
Kesenjangan Harga Rumah Makin Lebar
Ilustrasi/rumah.com

Bisnis.com, JAKARTA – Adanya lonjakan likuiditas global karena kondisi finansial yang makin akomodatif, membuat harga rumah di negara berkembang makin lama makin sama dan pertumbuhannya saling terhubung.

International Monetary Fund (IMF) menemukan bahwa hampir 80% kota dan negara maju terus mengalami pertumbuhan harga rumah yang positif dalam sedekade terakhir, sedangkan di negara berkembang tercatat 60%-nya mengalami kondisi serupa.

Namun, seiring berjalannya waktu, kesenjangan harga rumah di tiap negara terus mengalami peningkatan. Laporan IMF menyebutkan, kesamaan harga rumah di tiap kota atau negara sebenarnya sangat menarik di mata investor karena kenaikan harga rumah yang terlalu tinggi bisa memperbesar dampak dari guncangan eksternal yang berdampak pada perekonomian dan bisnis.

Guncangan tersebut bisa diterjemahkan seperti kondisi perekonomian domestik mulai dari portofolio, neraca keuangan, dan likuiditas yang menunjukkan besaran risiko dan kepercayaan diri suatu wilayah.

Kemudian, kenaikan tingkat suku bunga kredit pemilikan rumah (KPR) karena kondisi perekonomian global juga dianggap dapat memperbesar kemungkinan sinkronisasi harga rumah di tiap negara. Namun, hal itu bisa juga memberikan dampak pada jumlah permintaan karena bisa membuat kondisi keuangan calon pembeli jadi makin cekak.

Di saat yang sama, kenaikan permintaan properti hunian untuk dijadikan aset dan investasi juga memungkinkan harga rumah makin menjulang karena tingkat suku bunga pinjaman akan turun dan risiko yang didapat pun lebih rendah.

“Contohnya di negara-negara maju, pendorong utama properti residensialnya seperti di Tokyo, New York, atau London adalah permintaan dari asing,” ungkap Adrian Alter, Periset dan Ekonom Departemen Moneter dan Pasar Modal IMF, dikutip dalam laporan resmi, Senin (25/2/2019).

Temuan IMF selanjutnya menyebutkan bahwa guncangan finansial di satu negara bisa meningkatkan risiko juga di negara lain, yang kemudian akan mempengaruhi tingkat permintaan dan kepercayaan diri pengembang.

Data IMF mengenai keterkaitan harga rumah antar negara, yang diukur menggunakan metode vector autoregressive (VAR) melihat dari berbagai kondisi perekonomian global, menunjukkan bahwa tingkat kesamaan harga yang lebih tinggi bisa memberikan keuntungan bagi sebagian negara.

“Dinamika kesinkronan harga rumah di tiap negara, terutama negara maju, bervariasi dan salah satunya juga tergantung dari ketertarikan investor asing untuk berinvestasi di negara itu. Kami menemukan bahwa hubungan antara kondisi perekonomian global dengan kesamaan harga rumah antar negara lebih kuat sebelum krisis global terjadi,” ungkap Jane Dokko, Periset IMF.

Dokko menyebutkan, negara dengan aturan nilai tukar yang lebih fleksibel, justru lebih sulit mendapat keuntungan kesinkronan harga rumah.

Selanjutnya, pertumbuhan harga rumah di negara-negara yang mengalami kesinkronan harga rendah, akan lebih sensitif pada kebijakan makroprudensial yang ditujukan untuk mengurangi kerentanan domestiknya, dibandingkan dengan negara dengan sinkronisitas yang tinggi.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
harga rumah

Editor : M. Rochmad Purboyo

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya



Top
Tutup