Sempat Terhenti, Pembangunan Jalan Trans Papua Dilanjutkan

PUPR melanjutkan proyek jalan nasional Trans Papua yang sempat terhenti akibat insiden penembakan di Kabupaten Nduga, Desember 2018 lalu. Pekerja konstruksi mendapat pengawalan dari pihak keamanan.
Rivki Maulana
Rivki Maulana - Bisnis.com 21 Februari 2019  |  15:01 WIB
Sempat Terhenti, Pembangunan Jalan Trans Papua Dilanjutkan
Prajurit Satgas Pembangunan Jalan Trans Papua Denzipur 12/OHH Nabire dan Denzipur 13/PPA Sorong Zeni TNI AD (POP 1) mengoperasikan alat berat untuk mendorong truk menaiki tanjakan dalam pembangunan jalan di Distrik Mbua, Kabupaten Nduga, Papua, Rabu (23/3/2016). - Antara/Sigid Kurniawan

Bisnis.com, JAKARTA -- Kementerian Pekerjaan Umum & Perumahan Rakyat (PUPR) melanjutkan proyek jalan nasional Trans Papua yang sempat terhenti akibat insiden penembakan di Kabupaten Nduga, Desember 2018 lalu. Pekerja konstruksi mendapat pengawalan dari pihak keamanan.


Direktur Jenderal Bina Marga Kementerian PUPR, Sugiyartanto mengatakan pekerjaan konstruksi di lintas Wamena - Mumugu dilanjutkan sejak dua pekan lalu.

Dia menambahkan, pekerjaan jembatan di lintas tersebut diharapkan bisa tuntas dalam enam bulan ke depan. 


"Meskipun ada gangguan [keamanan], kontrak tetap berjalan. Dari sisi keamanan, kami koordinasi dengan Panglima [TNI]," ujarnya di Jakarta, Kamis (21/2/2019).


Sebagaimana diketahui, pada awal Desember 2018 lalu, para pekerja konstruksi diserang oleh kelompok bersenjata di Kali Yigi (Km 102+525) dan Kali Aurak (Km 103+975.

Sejumlah pekerja meninggal dunia akibat serangan tersebut. 


Di lintas Wamena - Mumugu, terdapat 35 lokasi pembangunan jembatan. Sebanyak 14 jembatan dikerjakan oleh PT Istaka Karya (Persero) dengan nilai kontrak Rp184 miliar.

Adapun 21 jembatan digarap oleh PT Brantas Abipraya dengan nilai kontrak Rp246,8 miliar. 


Menteri PUPR Basuki Hadimuljono sebelumnya mengatakan, jalan Trans Papua di segmen 5 yang menghubungkan Wamena dengan Mumugu bakal mendukung konektivitas antarwilayah dan menurunkan biaya logistik.

Ongkos logistik ke Wamena sangat mahal karena harus diangkut menggunakan pesawat udara.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
trans papua, Kementerian PUPR

Editor : Rustam Agus

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya



Top