Garuda Indonesia Buka-Bukaan, Ini Penyebab Tiket Penerbangan Internasional Bisa Lebih Murah dari Domestik

Garuda Indonesia Buka-Bukaan, Ini Penyebab Tiket Penerbangan Internasional Bisa Lebih Murah dari Domestik
Rinaldi Mohammad Azka
Rinaldi Mohammad Azka - Bisnis.com 30 Januari 2019  |  05:59 WIB
Garuda Indonesia Buka-Bukaan, Ini Penyebab Tiket Penerbangan Internasional Bisa Lebih Murah dari Domestik
Sebuah pesawat Garuda Indonesia terbang melintas di atas jalan raya saat bersiap mendarat di Bandara Internasional I Gusti Ngurah Rai, Denpasar, Bali - ANTARA/Nyoman Hendra Wibowo

Bisnis.com, JAKARTA -- Garuda Indonesia membuka alasan mengapa penerbangan internasional dapat lebih murah dibandingkan dengan penerbangan domestik. Alasannya, karena muslihat pemasaran.

Direktur Niaga PT Garuda Indonesia Tbk. (GIAA), Fikri Ilham Kurniansyah mengatakan, ada dua mekanisme alasan tarif penerbangan domestik dapat lebih mahal dari penerbangan internasional.

Kedua mekanisme tersebut yakni mekanisme pasar dan mekanisme pemasaran di domestik dan internasional. Dia menyebut dalam penerbangan internasional maskapai biasa menggunakan bauran produk dan harga yang sangat signifikan.

"Jadi kita bisa memberikan gimmick, bisa Rp1 atau US$1, tapi dalam jumlah seat yang terbatas," ungkapnya, Selasa (29/1/2019).

Dia mencontohkan penerbangan Garuda Indonesia Jakarta--Amsterdam, GIAA memiliki kursi bisnis 30 seat dan dijual dengan harga US$3.000. Kalau itu terisi 80%, penerimaan untuk penerbangan tersebut berkisar US$75.000. Kemudian, dari 300 seat ekonomi Garuda menjual 100 seat seharga US$1.500 dollar dan mendapatkan US$150.000.

"Setelah total, kami masih punya 50 seat lagi yang bisa kita gunakan untuk marketing gimmick, ke Eropa Rp4 juta atau Rp3 juta. Namun, itu sebenarnya dalam seat yang terbatas, karena kita harus mempengaruhi terus kepada pelanggan bahwa Garuda terjangkau," jelasnya.

Langkah tersebut lanjutnya, karena persaingan maskapai internasional sangat ketat dan maskapai harus mengambil pangsa pasarnya. 

Dia mencontohkan, ada maskapai yang dapat memberi harga Rp700.000 dari Aceh-Kuala Lumpur-Jakarta, tapi hanya beberapa seat.

"Kalau semuanya dia jual Rp700.000, kalau dia bisa bertahan dalam satu bulan saya angkat topi. Karena internasional menggunakan gimmick," tegasnya.

Contoh lain, penerbangan Singapore Airlines (SQ) Shanghai-Singapura-Denpasar menjual tiket hanya seharga US$200. Padahal, Garuda Indonesia harus menjual tiket seharga US$700 penerbangan Shanghai-Denpasar agar tetap hidup.

Menurutnya, yang terjadi karena ada empat kali terbang dalam sehari, berarti kapasitasnya 1.000 seat, SQ membuang 100 seat saja dengan harga murah.

"Mereka bisa hidup dari revenue bisnis traveller, bisnis class mereka dan ekonomi corporate mereka sehingga gimmick ini adalah alat marketing mereka," tuturnya.

Sementara kondisi tersebut berbanding terbalik dengan apa yang ditampilkan penerbangan domestik. Sebab, yang ditampilkan penerbangan domestik adalah harga riil yang bisa dipesan kapan pun.

"Karena dia bisa dapatkan seat berapa pun yang kita minta. Saya kira itu kenapa domestik dan internasional berbeda," jelasnya.

Selain itu, metode tarifnya juga berbeda, karena penerbangan domestik diatur dalam tarif batas bawah (TBA) dan tarif batas atas (TBA) sedangkan penerbangan internasional tidak. "Kami bisa jual Rp500.000 sampai dengan Rp1 juta tergantung permintaan, kalau orang kepepet ya sudah bisa sampai Rp6 juta ke Singapura," imbuhnya.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
garuda indonesia

Editor : Andhika Anggoro Wening

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya



Top