Pasokan Apartemen Bertambah, Penyerapan Stagnan

Situasi pasar properti yang diharapkan semakin membaik, saat ini masih menunjukkan keadaan sebaliknya yang mana banyaknya pasokan apartemen tidak seimbang dengan jumlah penyerapan.
Maria Elena
Maria Elena - Bisnis.com 10 Januari 2019  |  21:30 WIB
Pasokan Apartemen Bertambah, Penyerapan Stagnan
Pekerja beraktivitas di kawasan proyek pembangunan suatu apartemen, Senin (15/10/2018). - ANTARA/Risky Andrianto

Bisnis.com, JAKARTA - Situasi pasar properti yang diharapkan semakin membaik, saat ini masih menunjukkan keadaan sebaliknya yang mana banyaknya pasokan apartemen tidak seimbang dengan jumlah penyerapan.

Senior Associate Director Colliers International Indonesia Ferry Salanto mengatakan pasokan apartemen pada 2018 meningkat dua kali lipat dibandingkan dengan tahun 2017.

"Pada 2017 ada tambahan sekitar 8.000 unit. 2018 bertambah dua kali lipat, sekitar 17.000 unit," kata Ferry, Rabu (9/1/2019).

Berdasarkan hasil riset Colliers, jumlah pasok tahunan selama tahun 2018 naik sebesar 116%, yaitu sebanyak 17.524 unit. Ferry mengatakan laju pasokan tersebut tidak seimbang dengan laju penyerapan yang hanya naik 1% secara tahunan (yoy).

Tingkat serapan dinilai masih tetap stagnan, meskipun sudah ada berbagai stimulus yang diberikan, salah satunya kebijakan rasio loan-to-value (LTV) yang dikeluarkan oleh Pemerintah yang memungkinkan pembeli rumah pertama bisa mendapatkan keringanan uang muka hingga sebesar 0%.

Semakin banyaknya unit yang tidak terhuni ditunjukkan oleh tingkat hunian yang menurun 1,4% sepanjang 2018 dibandingkan dengan 2017.

Apalagi, pada 2019 diproyeksikan akan ada penambahan pasokan sebanyak 20.150 unit dan hingga 2021 diproyeksi akan bertambah 79 proyek dengan menyumbang 41.677 unit apartemen.

Ferry mengatakan kemungkinan penyerapan baru akan berjalan aktif pada semester II/2019, salah satunya karena suku bunga yang tinggi saat ini. Akibat kondisi makro ekonomi dengan melemahnya rupiah terhadap dolar AS beberapa waktu lalu, Bank Indonesia menaikkan suku bunga acuan menjadi 6% pada November 2018 lalu.

Apalagi, dengan adanya aktivitas politik Pemilu pada pertengahan 2019, Ferry mengaku pihaknya tidak terlalu optimistis bahwa pasar apartemen akan membaik di semester I/2019.

Selain itu, dia memaparkan orang saat ini lebih cenderung menabung uangnya. Berdasarkan data dari Otoritas Jasa Keuangan (OJK), jumlah tabungan semakin meningkat sekitar 9,2% hingga akhir 2018.

Ferry juga menilai return of investment (RoI) juga mempengaruhi penjualan produk apartemen. Produk seperti apartemen hanya menghasilkan yield 5,5%, berbeda jauh dengan yield yang dihasilkan saat tahun 2013 yang sebesar 10,2%.

Dia mengatakan, masih ada produk investasi lainnya yang bisa memberikan yield yang lebih tinggi dari properti, di antaranya, retail savings bonds (SBR004) yang imbal hasilnya 7,1%, Indonesian government bond for retail (ORI 015) yang memberikan imbal hasil 7%, dan deposito bank yang memberikan imbal hasil 6,5%.

Dia menilai, pengembang jika hanya mengandalkan pembeli investor, maka akan sangat sulit mengangkat angka penjualan. Oleh karena itu, ada baiknya pengembang menangkap pasar yang dinilai potensinya besar, yaitu pasar end user.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
proyek apartemen

Editor : M. Rochmad Purboyo

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya



Top