Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group

RAPBN 2019 Perlu Perhatikan Beban Utang

Pemerintah diharapkan dapat menetapkan target yang lebih realistis untuk APBN 2019. Dengan begitu defisit anggaran tidak berakhir dengan penambahan beban utang.
M. Richard
M. Richard - Bisnis.com 05 Maret 2018  |  18:35 WIB
Ilustrasi
Ilustrasi

Bisnis.com, JAKARTA -- Pemerintah diharapkan dapat menetapkan target yang lebih realistis untuk APBN 2019. Dengan begitu defisit anggaran tidak berakhir dengan penambahan beban utang.

Seperti diketahui, pemerintah telah memulai pembahasan tentang pokok-pokok rancangan APBN tahun anggaran 2019.

Direktur Penelitian Center of Reform on Economics (CORE) Indonesia Mohammad Faisal mengatakan pemerintah perlu menetapkan target belanja dan penerimaan yang lebih realistis.

"Jangan seperti APBN 2018 yang targetnya terlalu tinggi, tidak sesuai dengan situasi ekonomi domestik dan potensi penerimaan pajak terbatas," katanya kepada Bisnis, Senin (5/3/2018).

Menurut Faisal, target belanja yang terlalu tinggi dan tidak diimbangi dengan penerimaan negara tinggi pula akan memperlebar defisit APBN, yang artinya menambah beban utang.

Berdasarkan data Kementerian Keuangan, belanja negara pada 2018 mencapai Rp2.220,7 triliun, atau naik 5,8% dari tahun lalu.

Adapun defisit APBN 2018 dipatok Rp325,9 triliun atau 2,19% dari PDB. Target defisit ini lebih rendah dibanding realisasi tahun lalu yang sebesar 2,48% dari PDB.

Mengenai utang yang disebabkan pelebaran defisit anggaran, menurutnya, perlu mendapat perhatian serius. Menurut dia, perhatian diperlukan karena di tahun 2018 beban utang dapat mencapai Rp354 triliun, dan Rp600 triliun jika beban bunga dimasukkan.

"Di tahun 2019, beban utang juga hampir sama dengan tahun ini, mencapai Rp348 triliun, utang jatuh tempo," katanya.

Menurutnya, beban utang ke depan akan semakin berat karena nilai tukar rupiah menunjukkan pelemahan.

Itu terjadi karena lebih dari 30% dalam bentuk pinjaman, sementara sisanya dalam bentuk SBN yang kepemilikan asingnya juga mencapai 30%.

Selain itu, tekanan terhadap rupiah juga berpotensi meningkat sejalan rencana the Fed menaikkan suku bunganya. "Bahkan, di tahun ini rencananya sampai 4 kali kenaikan suku bunga," Faisal.

Seperti diketahui, sejak awal Februari lalu rupiah mengalami depresiasi 2.8%. Adapun, nilai tukar rupiah saat ini berada di kisaran Rp,13.750 per US$.

Selain itu katanya, yield surat utang negara (SUN) sangat tinggi jika dibandingkan emerging market yang lain.

Berdasarkan data Asian Bonds Online, yield SUN tenor 10 tahun Indonesia, Myanmar, Singapura, dan Thailand adalah masing-masing 6,575%, 4,009%, 2,339%, dan 2,361%.

Menurut Faisal, naiknya peringkat utang yang diberikan lembaga pemeringkat seperti S&P, Moody dan Fitch harusnya membuat yield SUN turun.

"Anehnya yield SBN kita ini masih tetap tinggi padahal mestinya saat peringkat utang membaik yield turun," imbuhnya.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

rapbn RAPBN 2019
Editor : Saeno
Bisnis Indonesia bersama 3 media menggalang dana untuk membantu tenaga medis dan warga terdampak virus corona yang disalurkan melalui Yayasan Lumbung Pangan Indonesia (Rekening BNI: 200-5202-055).
Ayo, ikut membantu donasi sekarang! Klik Di Sini untuk info lebih lengkapnya.
0 Komentar

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

BisnisRegional

To top