Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group bisnis tv bisnismuda

Qualis Ekspansi Laboratorium Pengujian SNI

Perusahaan penyedia jasa pengujian dan sertifikasi produk SNI, PT Qualis Indonesia, menyiapkan investasi senilai US$2 juta untuk memperluas fasilitas laboratorium di Tangerang.
N. Nuriman Jayabuana
N. Nuriman Jayabuana - Bisnis.com 29 November 2017  |  20:59 WIB
Logo PT Qualis Indonesia. - JIBI
Logo PT Qualis Indonesia. - JIBI

Bisnis.com, JAKARTA—Perusahaan penyedia jasa pengujian dan sertifikasi produk SNI, PT Qualis Indonesia, menyiapkan investasi senilai US$2 juta untuk memperluas fasilitas laboratorium di Tangerang.

General Manager Qualis Indonesia Calvin Satyanandi menyatakan dengan ekspansi tersebut perusahaan bakal menambah empat divisi pelayanan pengujian.

Qualis sudah memiliki divisi pengujian kualitas untuk berbagai produk seperti mainan, makanan, otomotif, kosmetik, tekstil, pakaian bayi, serat optik, kabel, aksesori kelistrikan, electromagnetic compatibility, kalibrasi, dan sebagainya.

“Sekarang ada 16 divisi pengujian, dengan investasi baru ingin kami tambahkan empat divisi lagi. Divisi itu misalnya untuk pengujian food contactpackaging, baja dan farmasi,” ujarnya di sela gelaran Indonesia Quality and Safety Forum 2017, Rabu (29/11/2017).

Calvin menyatakan bisnis pengujian dan standardisasi produk di Indonesia cukup potensial mengingat masih minim keterlibatan sektor swasta. Menurutnya, fasilitas pengujian kualitas produk di dalam negeri masih begitu didominasi peran pemerintah.

“Lab pengujian produk di luar negeri itu sudah banyak yang dikelola swasta. Sedangkan kalau di sini bisa dibilang yang paling besar hanya Qualis,” ujarnya.

Produk SNI wajib di dalam negeri, ujarnya, masih relatif lebih rendah ketimbang negara lain di Asean. Indonesia baru menetapkan SNI wajib kepada 105 jenis produk manufaktur. Sementara itu, Thailand sudah menetapkan standar wajib bagi 1.000 jenis barang.

“Standar produk di sana bisa dibilang lebih mandatory daripada voluntary. Demand peluang bisnis ini bisa dibilang betul-betul bagaimana kebijakan regulator,” ujarnya.

Di samping itu, menurutnya, pabrikan manufaktur di dalam negeri belum banyak yang tertarik untuk membagun fasilitas pengujian produk sendiri. Padahal, standar tertentu kadang membuka akses pasar ekspor pada negara tertentu.

Biasanya UMKM itu cenderung tidak mau menguji SNI. Padahal eksportir kadang mesti memperoleh standar tertentu, daripada bawa produknya ke luar negeri dulu untuk diuji lagi dan disertifikasi,” ujarnya.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

standar nasional indonesia
Editor : Ratna Ariyanti
Bisnis Indonesia bersama 3 media menggalang dana untuk membantu tenaga medis dan warga terdampak virus corona yang disalurkan melalui Yayasan Lumbung Pangan Indonesia (Rekening BNI: 200-5202-055).
Ayo, ikut membantu donasi sekarang! Klik Di Sini untuk info lebih lengkapnya.

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

BisnisRegional

To top