Cari berita
  • facebook
  • twitter
  • instagram
  • youtube
Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group bisnis tv bisnismuda

Serangan Wereng: Gapoktan Sarankan Jeda Penanaman Padi

Gabungan Kelompok Tani menyarankan petani melakukan jeda penanaman padi untuk memutus perkembangbiakan wereng batang coklat. Hal ini perlu dilakukan pada wilayah endemis wereng seperti Banyumas.
Azizah Nur Alfi
Azizah Nur Alfi - Bisnis.com 04 September 2017  |  16:58 WIB
Serangan Wereng: Gapoktan Sarankan Jeda Penanaman Padi
Petani menanam bibit padi pada musim tanam di Kabupaten Ogan Ilir (OI), Sumatra Selatan, Jumat (5/5). - Antara/Feny Selly

Bisnis.com, JAKARTA - Gabungan Kelompok Tani menyarankan petani melakukan jeda penanaman padi untuk memutus perkembangbiakan wereng batang coklat. Hal ini perlu dilakukan pada wilayah endemis wereng seperti Banyumas.

Ketua Gabungan Kelompok Tani Purbalingga Fajar Pamuji mengatakan, pihaknya meminta petani agar melakukan jeda tanam padi agar terhindar dari serangan wereng batang coklat yang lebih besar. Jeda tanam padi yang disarankan yakni dua kali tanam padi dan satu kali tanam palawija.

Dia menyebut, tanam palawija mendorong petani menggunakan pupuk organik yang diantaranya bersumber dari pupuk kandang. Sebaliknya, tanam padi mendorong petani lebih banyak konsumsi kimia untuk mengendalikan hama dan organisme pengganggu tanaman.

Sementara, program pemerintah menggenjot produksi padi turut mendorong petani melakukan tanam padi terus menerus. Tanam padi tanpa jeda memicu perkembangbiakan wereng.

Meski diakuinya, dinas pertanian daerah setempat tidak merekomendasikan petani melakukan jeda tanam padi. Dinas pertanian setempat justru menyarankan penggunaan zat kimia untuk mengendalikan serangan hama.

Lebih lanjut, penggunaan benih varietas tahan wereng seperti Inpari 31 dan 33 dinilai bukan solusi mengendalikan serangan hama wereng yang kini telah begitu hebat.

"Termasuk itu [tanam padi terus-menerus]. Akibatnya, penggunaan kimia terlalu tinggi. Lahan sawah di Kabupaten Purbalingga saat ini jenuh dengan kimia. Maka kami rekomendasikan ke petani agar jangan terus menerus tanam padi," kata dia dihubungi pada Senin (4/9).

Lebih lanjut, Fajar menyampaikan, pada musim tanam Oktober-Maret serangan wereng terjadi padi titik tertentu. Namun, pada musim tanam kali ini serangan wereng telah menyebar luas.

Fajar menyebut, panen padi dari lahan sawah miliknya seluas 1 ha pada musim tanam tahun lalu, tidak mencapai 2 ton. Sementara potensi produktivitas tanaman padi sekitar 7 ton per ha.

Adapun, kondisi saat ini lebih memprihatinkan karena tanaman padi tidak tumbuh. "Pada musim tanam baru sudah pesimis. Di samping wereng, juga kemarau. Boleh dikatakan Banyumas krisis beras, karena hasil petani sekarabg puso," imbuhnya.

Sebelumnya, Tim Klinik Tanaman Departemen Proteksi Tanaman dan LPPM IPB menyebut serangan yang berat WBC dan virus kerdil terjadi pada daerah yang melakukan tiga kali penanaman dalam setahun.

IPB mengidentifikasi penyebab ledakan WBC pada 2017 adalah interaksi dari iklim yang cukup basah pada 2017 (kemarau basah), penanaman padi yang terus menerus tanpa jeda, dan intensitas penggunaan insektisida yang tinggi (8-12 aplikasi per musim) oleh petani, dan beberapa insektisida yang digunakan merupakan golongan insektisida yang dilarang untuk padi.

Maka, IPB merekomendasikan agar dilakukan jeda penanaman satu musim, sehingga dalam satu hamparan dihindarkan adanya tanaman padi secara terua menerus. Serta, memusnahkan tanaman yang terserang virus kerdil hampa dan kerdil rumput karena berpotensi menjadi sumber penyakit pada musim berikutnya.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Simak Video Pilihan di Bawah Ini :

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

padi hama wereng
Editor : Bunga Citra Arum Nursyifani

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini

back to top To top