Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group

Laba Industri China Tumbuh Melambat

Laba perusahaan di sektor industri China pada April tercatat tumbuh melambat pada April. Kondisi ini menambah kekhawatiran bahwa tekanan pada ekonomi China masih belum mereda.
Yustinus Andri DP
Yustinus Andri DP - Bisnis.com 28 Mei 2017  |  17:05 WIB

BEIJING— Laba perusahaan di sektor industri China pada April tercatat tumbuh melambat pada April. Kondisi ini menambah kekhawatiran bahwa tekanan pada ekonomi China masih belum mereda.

Biro Statistik Nasional China (NBS) mencatat, laba industri China tumbuh 14,0% atau naik menjadi 572,78 miliar yuan (US$83,59) secara year on year (yoy) pada April. Capaian tersebut melambat dari bulan sebelumnya yang mencatatkan peningkatan 23,8%.

Sementara itu, sepanjang Januari-April 2017, laba perusahaan manufaktur secara kumulatif tumbuh 24,4% atau mencapai 2,28 triliun yuan secara yoy. Adapun, pada kuartal I/2017 lalu laju pertumbuhan komponen tersebut tumbuh 28,3%.

Secara lebih khusus, laba di perusahaan-perusahaan milik negara China tumbuh 58,7% menjadi 514,86 miliar yuan sepanjang Januari-April. Level itu melambat jika dibandingkan dengan kenaikan 70,5% pada kuartal I/2017.

NBS menyebutkan, pelambatan pertumbuhan pada April tersebut telah diprediksi sebelumnya. Hal itu disebabkan oleh turunnya harga bijih besi, baja dan komoditas lainnya yang dibarengi oleh turunnya aktivitas penjualan pabrik, investasi dan penjualan ritel. Selain itu, kontrol yang mulai diperketat pemerintah atas harga properti juga turut memengaruhi.

"Pelambatan pertumbuhan keuntungan industri China saya rasa masuk akal, mengingat pertumbuhan cepat yang dialami awal tahun ini," kata salah satu pejabat NBS He Ping, seperti dikutip dari Reuters, Minggu (28/7/2017).

NBS menyebutkan dalam keterangan resminya,  pelambatan pertumbuhan keuntungan industri dapat berdampak pada turunnya harga produk jadi dan biaya bahan baku, serta pertumbuhan laba lanjutan pada industri besar seperti baja, otomotif, dan bahan kimia.

Pasalnya, apabila harga pembelian bahan baku melebihi harga barang jadi, maka kondisi itu akan menyebabkan biaya industri meningkat, terutama untuk industri hilir. Untuk Itu NBS mengharapkan agar pemerintah dan Bank Sentral China (PBOC) untuk memantau pertumbuhan permintaan kredit untuk perusahaan selama beberapa bulan ke depan.

Seperti diketahui, pertumbuhan kredit di China saat ini menjadi perhatian besar bagi pemerintah maupun pasar. Sebab, laju pertumbuhan utang dalam negeri di Negeri Panda yang tinggi tersebut, telah membuat Moody's Investors Service menurunkan peringkat kredit negara tersebut untuk pertama kalinya selama 30 tahun terakhir pada Rabu, 24 Mei 2017.

Seperti diketahui, pekan lalu Moody’s memangkas peringkat kredit China dari A1 menjadi Aa3. Lembaga itu juga mengubah outlook utang Negeri Panda menjadi stabil dari negatif. Namun demikian, Kementerian Keuangan China mengaku tetap optimis dengan perekonomian negaranya kendati mendapat penilaian negatif dari lembaga pemeringkat utang internasional asal AS itu.

Terpisah, Nomura Holdings Inc. menyebutkan pelambatan pertumbuhan laba perusahaan manufaktur China itu akan semakin memperkuat prediksi bahwa PDB nasional tidak akan tumbuh lebih tinggi atau setara dengan kuartal I/2017 sebesar 6,9%.

Nomura sendiri memperkirakan, laju PDB tahun ini akan tumbuh 6,7% atau di atas perkiraan pemerintah sebesar 6,5% dan melambat menjadi 6,2% pada 2018.

“Dampak dari pemangkasan stimulus fiskal dan moneter akan mulai terlihat. Kondisi itu akan menekan pertumbuhan ekonomi China tahun ini,” kata ekonom Nomura. 

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

ekonomi china industri china

Sumber : Reuters

Editor : Gita Arwana Cakti
Bisnis Indonesia bersama 3 media menggalang dana untuk membantu tenaga medis dan warga terdampak virus corona yang disalurkan melalui Yayasan Lumbung Pangan Indonesia (Rekening BNI: 200-5202-055).
Ayo, ikut membantu donasi sekarang! Klik Di Sini untuk info lebih lengkapnya.

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

BisnisRegional

To top