Cari berita
  • facebook
  • twitter
  • instagram
  • youtube
Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group bisnis tv bisnismuda

DEFISIT PERDAGANGAN AS: Indonesia Tak Kena Dampak Kebijakan Amerika Serikat

Indonesia tidak akan terkena dampak dari kebijakan Amerika Serika terkait Negara-negara yang dianggap menyebabkan defisit perdagangan.
Novita Sari Simamora
Novita Sari Simamora - Bisnis.com 06 April 2017  |  11:14 WIB
DEFISIT PERDAGANGAN AS: Indonesia Tak Kena Dampak Kebijakan Amerika Serikat
Presiden Amerika Serikat Donald Trump. - REUTERS/Jonathan Ernst

Bisnis.com, JAKARTA—Indonesia tidak akan terkena dampak dari kebijakan Amerika Serika terkait negara-negara yang dianggap menyebabkan defisit perdagangan.

Sebelumnya, Presiden Amerika Serikat Donald J. Trump mengeluarkan perintah eksekutif untuk mengatasi defisit perdagangan Amerika Serikat yang kini mencapai sekitar US$50 miliar.

Amerika Serikat menilai terdapat 16 negara yang dianggap Trump telah melakukan praktik “curang” itu yakni China, Kanada, Jepang, Irlandia, Italia, Jerman, Prancis, India, Indonesia, Malaysia, Meksiko, Korea Selatan, Swiss, Taiwan, Thailand, dan Vietnam.

Kepala Departmen Pendalaman Pasar Keuangan Bank Indonesia Nanang Hendarsah mengungkapkan kebijakan struktur ekspor Indonesia ke AS lebih banyak tidak berkaitan secara langsung. Menurutnya, kebijakan AS akan berdampak pada Negara yang memiliki struktur ekspor komoditas, seperti Vietnam dan Taiwan.

“Kalau Indonesia ekpor ke US, pasti akan melalui negara lain. Jadi menurut hemat saya, dampaknya enggak signifikan,” ungkapnya di Jakarta, Kamis (6/4/2017).

Sebelumnya, Mirza Adityaswara Deputi Gubernur Senior BI memaparkan ada tiga kritera yang ditentukan oleh Presiden Trump. Pertama, negara yang memiliki surplus perdagangan paling tidak US$20 miliar. Berdasarkan data pemerintah, surplus perdangan Indonesia – AS hanya sebilai US$13 miliar.

Kedua, neraca perdagangan yang surplus. Khusus Indonesia, neraca perdagangan justru mengalami defisit sebanyak 1,8%– 2% dari pertumbuhan ekonomi. Ketiga, intervensi kurs satu arah secara terus menerus selama setahun yang besarannya bisa sampai 2% dari GDP.

Mirza menilai Indonesia seharusnya tidak masuk dalam daftar yang ditetapkan oleh Amerika Serikat.


Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Simak Video Pilihan di Bawah Ini :

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

bank indonesia as defisit perdagangan
Editor : Bunga Citra Arum Nursyifani

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini

back to top To top