Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Bisnis Trucking Diperkirakan Tumbuh 15%

Bisnis angkutan barang jalur darat atau truk diperkirakan mengalami pertumbuhan volume muatan sebesar 10% hingga 15% pada tahun depan, seiring dengan pertumbuhan ekonomi dan maraknya pengembangan infrastruktur dalam negeri.
Sejumlah truk antre menimbang di pintu masuk pelabuhan/ Antara- Didik Suhartono
Sejumlah truk antre menimbang di pintu masuk pelabuhan/ Antara- Didik Suhartono

Bisnis.com, JAKARTA--Bisnis angkutan barang jalur darat atau truk diperkirakan mengalami pertumbuhan volume muatan sebesar 10% hingga 15% pada tahun depan, seiring dengan pertumbuhan ekonomi dan maraknya pengembangan infrastruktur dalam negeri.

Sugi Purnoto, Wakil Ketua Umum DPP Asosiasi Pengusaha Truk Indonesia (Aptrindo) bidang Sarana dan Prasarana, mengungkapkan pertumbuhan tidak berdampak pada peningkatan pendapatan pengusaha truk.

"Yang pertama, posisi supply saat ini itu masih lebih tinggi dari demand," ujarnya saat dihubungi Bisnis, Kamis (8/12).

Hal ini disebabkan karena pengusaha banyak melakukan investasi kendaraan beberapa tahun lalu hingga 2014. Sementara itu, pertumbuhan permintaan angkutan barang tidak sesuai harapan pada 2014-2015.

Artinya, lanjut Sugi, pertumbuhan ekonomi dan logistik ini masih lebih rendah dari populasi angkutan barang pada tahun depan. Namun demikian, angkutan barang jalur darat masih mendominasi transportasi barang di Indonesia, terutama untuk pulau Sumatra, Jawa dan Bali.

"Sumatra, Jawa dan Bali memegang lebih dari 70% share distribusi barang," katanya. Adapun, pertumbuhan pada tahun depan diperkirakan lebih baik dibandingkan dengan kondisi saat ini, kendati permintaan armada angkutan truk belum terlalu signifikan.

Banyaknya armada truk saat ini, kata Sugi, masih mampu menutup pertumbuhan volume muatan hingga 20% untuk masa yang akan datang. Dengan demikian, overcapacity atau kelebihan armada masih ada tahun depan.

Kyatmaja Lookman, CEO PT Lookman Djaja yang juga menjabat sebagai Wakil Letua Umum DPP Aptrindo bidang Distribusi dan Logistik, memprediksikan angkutan truk di sektor infrastruktur akan lebih berkembang tahun depan.

Alasannya, pemerintah masih terus mengenjot pembangunan jalan tol, pelabuhan dan infrastruktur penting lainnya. "Kendaraan sektor infrastruktur masih menjanjikan," katanya.

Untuk angkutan truk bagi barang konsumen, dia memperkirakan pertumbuhannya tidak akan signifikan. Bahkan, dia mengatakan bisnis angkutan untuk jenis barang tersebut cenderung stagnan.

Hal ini disebabkan oleh dampak perubahan customer behaviour (kebiasaan konsumen) dari dua tahun lalu. Menurutnya, konsumen tidak lagi melakukan kegiatan stocking barang sehingga semua kegiatan distribusi barang dilakukan dengan sistem just in time.

Umumnya, pabrik barang konsumsi, elektronik dan otomotif terutama pabrik Jepang kini mengunakan sistem itu. Tidak hanya pabrik, segmen minimarket yang pertumbuhannya melampaui segmen supermarket besar juga menerapkan sistem yang sama.

"Mereka tidak mau ada uang nyangkut di stocking, sehingga sekarang lebih efisien," katanya. Dari sistem just in time tersebut, beberapa manufaktur sudah mengurangi pengunaan pusat distribusi atau distribution center di kota besar.

Sekarang ini, lanjut Kyatmaja, industri lebih memilih mengunakan fasilitas stock point. "Stock point ini beda. Jika distribution untuk menyimpang barang, stock point hanya sebagai tempat menampung sementara," paparnya.

Imbasnya, dia mengatakan perusahaan menerima penawaran dari konsumen untuk menyediakan fasilitas gudang untuk melayani cross docking.

Cross docking yakni transporter mengangkut barang dengan truk besar hingga ke satu gudang sementara, kemudian barang tersebut disebar ke beberapa wilayah dengan mengunakan truk yang lebih kecil.

Sistem ini, menurutnya, akan sangat mengurangi biaya gudang. Alhasil, dia melihat properti segmen pergudangan akan terkena dampak dari berubahnya sistem distribusi logistik tersebut.

Terkait dengan overcapacity, dia mengatakan fenomena ini telah menyebabkan harga jual kembali kendaraan truk semakin jatuh. "Akhirnya harga mobil itu tidak beda dengan harga besi tua. Contohnya, truk tahun 1997 dulu bisa dijual Rp200 juta. Sekarang bisa Rp20-30 juta," ungkapnya.

Dulu pengusaha bisa mengandalkan keuntungan dari harga jual kembali kendaraan. Kini, dia menuturkan hal tersebut tidak bisa diandalkan karena banjir kendaraan. Banyaknya jumlah kendaraan angkutan barang itu juga menimbulkan dampak lain, yakni penurunan tarif sewa. Sepanjang tahun ini, dia menghitung penurunan tarif trucking sudah mencapai 10%.

"Kalau bicara ongkos logistik mahal. Pasti bukan karena truk. Kita dua tahun belum naikin tarif. Tarif tidak naik, solar turun," ungkapnya. Dia menambahkan kondisi ini masih terasa hingga akhir tahun ini. Namun, dia berharap kondisi bisnis trucking akan jauh lebih baik pada 2017.


Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News dan WA Channel

Penulis : Hadijah Alaydrus
Editor : Rustam Agus
Konten Premium

Dapatkan informasi komprehensif di Bisnis.com yang diolah secara mendalam untuk menavigasi bisnis Anda. Silakan login untuk menikmati artikel Konten Premium.

Artikel Terkait

Berita Lainnya

Berita Terbaru

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

# Hot Topic

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Rekomendasi Kami

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Foto

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Scan QR Code Bisnis Indonesia e-paper