Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group bisnis tv bisnismuda

EKONOMI AS: Tingkat Pengangguran Rendah, Upah Belum Stabil

Departemen Tenaga Kerja AS melaporkan penurunan rata-rata pendapatan per jam turun 0,1% menjadi US$25,89, penurunan pertama sejak Desember 2014.
Demis Rizky Gosta
Demis Rizky Gosta - Bisnis.com 03 Desember 2016  |  16:56 WIB
Bursa tenaga kerja AS. - .Reuters
Bursa tenaga kerja AS. - .Reuters

Bisnis.com, JAKARTA — Rata-rata pendapatan tenaga kerja di Amerika Serikat justru merosot di saat tingkat pengangguran di Negeri Paman Sam berada di titik terendah dalam sembilan tahun terakhir.

Data Departemen Tenaga Kerja AS menunjukkan ekonomi AS mempekerjakan tambahan 178.000 orang sepanjang November di sektor selain pertanian, naik dari 142.000 orang yang dipekerjakan selama Oktober. 

Penyerapan tenaga kerja tersebut lebih rendah dari median proyeksi penambahan 180.000 tenaga kerja yang dihimpun Bloomberg.

Pergerakan di pasar tenaga kerja sepanjang November menekan porsi penduduk tanpa pekerjaan (jobless rate) di AS dari 4,9% menjadi 4,6%, level paling rendah dalam sembilan tahun terakhir.

Adapun tingkat pengangguran (unemployment rate), yang dihimpun melalui survei terhadap rumah tangga, bertahan di level paling rendah dalam delapan tahun terakhir sebesar 4,9%. 

Kestabilan pertumbuhan tenaga kerja pada November menunjukkan hasil pemilu presiden AS tidak menyurutkan minat pengusaha membuka lapangan pekerjaan. Penurunan porsi penduduk tidak bekerja yang lebih rendah mengindikasikan tingkat upah dan inflasi masih dalam tren kenaikan.

Namun, data tingkat upah menunjukkan kondisi yang berbeda. Departemen Tenaga Kerja AS melaporkan penurunan rata-rata pendapatan per jam turun 0,1% menjadi US$25,89, penurunan pertama sejak Desember 2014.

“Pasar tenaga kerja masih sehat dan sepertinya beroperasi pada atau lebih tinggi dibandingkan kapasitas optimal. Gaji selalu volatil dari bulan ke bulan. Saya lebih menaruh perhatian kepada tingkat pengangguran daripada terlalu memikirkan tingkat kenaikan upah,” kata Michael Feroli dari JPMorgan Chase & Co kepada Bloomberg.

Selain permasalahan penurunan tingkat upah, pasar tenaga kerja di AS juga terbebani oleh penurunan tingkat partisipasi. Permasalahan ini menjadi salah satu kritik Donald Trump terhadap perekonomian AS di bawah kepemimpinan Presiden Barrack Obama.

Tingkat partisipasi angkatan kerja, yang menggambarkan porsi penduduk pada usia kerja di angkatan kerja, turun dari 62,7% pada Oktober menjadi 62,8%.

Indikator tersebut kini berada di level terendah sejak 1978 dan akan terus merosot seiring pensiunnya generasi baby boomers. Penurunan tingkat partisipasi ini bisa menjadi faktor lain di luar pemulihan ekonomi yang membuat tingkat pengangguran di AS terus merosot.

Namun, tingkat penyerapan tenaga kerja yang positif berpotensi mendorong semakin banyak orang masuk ke angkatan kerja dan menyurutkan minat penduduk untuk berhenti mencari kerja.

Sekitar 4,52 juta penduduk AS yang memasuki angkatan kerja pada November telah mendapatkan pekerjaan, naik 575.000 orang dari Oktober. Di sisi lain, penduduk yang keluar dari angkatan kerja naik 296.000 orang menjadi 4,68 juta.

“Angkatan kerja yang semakin tua akan membatasi kenaikan tingkat partisipasi,” kata Michael Gapen, Ekonom di Barclays Plc yang sebelumnya bekerja di The Fed.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

data tenaga kerja as
Editor : Linda Teti Silitonga
Bisnis Indonesia bersama 3 media menggalang dana untuk membantu tenaga medis dan warga terdampak virus corona yang disalurkan melalui Yayasan Lumbung Pangan Indonesia (Rekening BNI: 200-5202-055).
Ayo, ikut membantu donasi sekarang! Klik Di Sini untuk info lebih lengkapnya.

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

BisnisRegional

To top