Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group bisnis tv bisnismuda

Harga Naik, Petani Cabai Desak Pemerintah Jangan Impor

Petani cabai yang tergabung dalam Asosiasi Agribisnis Cabai Indonesia (AACI) Jawa Timur meminta agar pemerintah tidak menetapkan kebijakan impor cabai terkait dengan tren menaiknya harga komoditas tersebut.
Choirul Anam
Choirul Anam - Bisnis.com 26 Oktober 2016  |  19:20 WIB
Petani memanen cabai - Ilustrasi/Bisnis.com
Petani memanen cabai - Ilustrasi/Bisnis.com

Bisnis.com, MALANG - Petani cabai yang tergabung dalam Asosiasi Agribisnis Cabai Indonesia (AACI) Jawa Timur meminta agar pemerintah tidak menetapkan kebijakan impor cabai terkait dengan tren menaiknya harga komoditas tersebut.

Ketua AACI Jatim Sukoco mengatakan harga cabai merah besar yang mencapai Rp43.000-Rp45.000/kg atau naik tajam bila dibandingkan dengan bulan lalu yang mencapai Rp22.000-Rp25.000/kg. Harga cabai rawit merah mencapai Rp32.000/kg dan bulan lalu hanya Rp15.000/kg itu masih wajar.

“Karena produksinya memang turun, namun HPP cabai naik,” ujarnya saat dihubungi, Rabu (26/10/2016).

Dengan harga sebesar itu pun, belum tentu petani menikmatinya karena bisa saja kerusakan tanaman cabai milik mereka justru tinggi. Dia juga meyakini konsumen mampu membelinya. Mengacu pada data BPS, tingkat konsumsi perkapita terhadap cabai mencapai 4 kg/tahun.

Dengan harga sebesar itu dengan asumsinya harga tidak turun sepanjang tahun, maka berarti setiap orang tidak sampai membayar kurang Rp1.000/hari. “Kan kecil biaya membeli bahan makanan sebesar itu.”

Jika pemerintah menerapkan kebijakan impor, petani dipastikan akan terpuruk karena harganya akan jatuh. Di sisi lain tingkat produksi cabai turun dan harga patokan produksi (HPP)-nya juga naik. HPP cabai merah besar mencapai Rp8.000-Rp10.000/kg, sedangkan cabai rawit Rp15.000-Rp16.000/kg.

Dengan adanya hujan, maka tanaman cabai gampang rusak menjadi busuk dan layu. Serangan penyakit juga banyak, seperti busuk daun, busuk batang, dan busuk akar. Tingginya harga cabai, kata Sukoco, membuat petani termotivasi untuk menanam komoditas tersebut.

Untuk musim tanam Oktber-November, ada tambahan luasan tanam 40% dari luasan tanaman normal. Tanaman cabai merah besar di Jatim diperkirakan bertambah menjadi 2.400 hektare, sedangkan luasan tanaman cabai rawit diperkirakan bertambah menjadi 8.000 hektare.

Pada kondisi normal, di Jatim tanaman cabai merah besar mencapai 1.500 hektare dengan produksi 7 ton/hektare bila cuacanya normal. Adapun cabai rawit mencapai 6.000 hektare dengan produksi dalam kondisi normal mencapai 7 ton/hektare.

Jika tanaman cabai tersebut berproduksi normal, maka diperkirakan pasokan cabai di pasar akan banyak sehingga dapat menurunkan harganya.

Penambahan luasan cabai itu dilakukan petani untuk mengantisipasi tingginya permintaan pada momen Natal dan Tahun Baru.

“Yang menjadi pertanyaan, apakah penanaman tersebut dapat meningkatkan produksi cabai secara signifikan. Terus terang saya ragu, karena di Oktober-November curah hujan justru tinggi sehingga tingkat kerusakan menjadi tinggi pula,” ujarnya.


Simak Video Pilihan di Bawah Ini :

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

harga cabai
Editor : Yusuf Waluyo Jati
Bisnis Indonesia bersama 3 media menggalang dana untuk membantu tenaga medis dan warga terdampak virus corona yang disalurkan melalui Yayasan Lumbung Pangan Indonesia (Rekening BNI: 200-5202-055).
Ayo, ikut membantu donasi sekarang! Klik Di Sini untuk info lebih lengkapnya.

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

BisnisRegional

To top