Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group bisnis tv bisnismuda

Pabrik Pati Sagu Austindo Produksi Komersial Oktober

Pati adalah bahan baku pengikat dalam produksi daging olahan, mi instan, biskuit, saos, hingga tekstil dan pulp.
Demis Rizky Gosta
Demis Rizky Gosta - Bisnis.com 07 September 2016  |  19:40 WIB
Sagu, sumber pangan dan energi. - Ilustrasi/Antara
Sagu, sumber pangan dan energi. - Ilustrasi/Antara

Bisnis.com, JAKARTA – Pabrik pati sagu di Papua Barat milik PT Austindo Nusantara Jaya Tbk siap berproduksi komersial pada Oktober.

Head of Sales and Marketing PT ANJ Agri Papua, Laurent Suryadarma, mengatakan ANJ Agri berusaha mengisi permintaan atas pati (starch) yang mencapai 3,8 juta ton per tahun.

Dia menjelaskan pati adalah bahan baku pengikat dalam produksi daging olahan, mi instan, biskuit, saos, hingga tekstil dan pulp. Sekitar 90%—92% dari kebutuhan pati di Indonesia berasal dari pengolahan tapioka atau singkong.

PT Austindo Nusantara Jaya Tbk mendirikan ANJ Agri dengan investasi US$40 juta. Pabrik tersebut rencananya mulai berproduksi komersial pada bulan dengan dengan kapasitas produksi 1.250 ton pati per bulan.

“Keuntungannya bahan bakunya alami, soalnya selama ini kebanyakan sagu ditanah di daerah Riau. Ini dari alam, dari hutan karena 50% dari sagu dunia ada di pulau Papua. Pati dari sagu sangat bagus digunakan untuk memperkuat tekstur daging olahan,” kata Laurent di sela konferensi pers Food Ingredients Asia 2016, Rabu (7/9/2016).

Wakil Ketua Gabungan Pengusaha Makanan dan MInuman Indonesia (GAPMMI), Lena Prawira, mengatakan kehadiran industri pemasok bahan baku pangan di dalam negeri sangat menguntungkan karena menghindarkan produsen makanan dan minuman dari risiko kurs serta kerumitan proses impor bahan pangan.

Industri bahan baku pangan yang paling tumbuh adalah industri ekstrak bahan pangan yang tumbuh di Tanah Air seperti ekstrak vanila atau ekstrak cengkeh. Industri lokal juga sudah bisa memasok berbagai bahan pangan turunan dari minyak kelapa sawit serta pati.

“Kita kebanyakan masih oplos. Belum ada yang formulasi sendiri, diimpor dari luar terus dicampur di sini. Saya mendorong distributor-distributor food additive ajak prinsipalnya investasi di sini,” kata Lena.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Simak Video Pilihan di Bawah Ini :

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

sagu austindo Food Ingredients Asia
Editor : Rustam Agus

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

To top