Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group bisnis tv bisnismuda

GEJOLAK HARGA DAGING: Daging Impor Industri Dialihkan, Pengusaha Untung 3%

Asosiasi Industri Pengolah Daging Indonesia (Nampa) menyatakan pihaknya dapat mengambil untung 2% hingga 3% per kilogram dari daging impor yang dialihkan peruntukannya dari industri hotel, restoran dan katering (horeka) ke konsumsi masyarakat.
Martin Sihombing
Martin Sihombing - Bisnis.com 20 Juni 2016  |  15:24 WIB
Ilustrasi - Bisnis.com
Ilustrasi - Bisnis.com

Bisnis.com, JAKARTA - Asosiasi Industri Pengolah Daging Indonesia (Nampa) menyatakan pihaknya dapat mengambil untung 2% hingga 3% per kilogram dari daging impor yang dialihkan peruntukannya dari industri hotel, restoran dan katering (horeka) ke konsumsi masyarakat.

Dialihkannya pasokan daging untuk industri ke pasaran dilakukan sesuai instruksi Menteri Pertanian sebagai salah satu upaya menekan harga daging sapi yang melambung sejak sebelum Ramadhan.

"Secara persentase, keuntungannya itu 2-3 persen per kilogram. Yang dijual paha depan yang memang lebih murah dari paha belakang," kata Ketua Umum Nampa Ishana Mahisa dalam jumpa pers "Evaluasi Kelancaran Importir Daging Sapi dari Luar Negeri untuk Mendukung Stabilitasi Harga Selama Ramadhan dan Idul Fitri" di Jakarta, Senin (20/6/2016).

Ishana menjelaskan, daging sapi yang nantinya digelontorkan ke pasar murah adalah daging beku khusus bagian paha depan sehingga para importir masih bisa meraup keuntungan.

Ia juga meyakinkan bagian paha depan juga masih layak diolah menjadi rendang atau olahan khas Indonesia lainnya.

Ditambahkannya, daging industri yang dialihkan ke pasaran tidak menjadi masalah bagi pihaknya lantaran importir mendapatkan daging dengan cara 'trimming" (potongan) dan "bulky" (curah).

"Karena pengertian daging industri adalah lemaknya 15 persen dan dagingnya 85 persen. Ada juga lemaknya 5 persen dan daging 95 persen, itulah yang kami jual. Pada praktiknya orang Indonesia tidak begitu suka yang ada lemaknya," paparnya.

Ada pun sisa daging yang tak dijual ke pasaran, lanjut Ishana, akan dicadangkan untuk kebutuhan industri horeka.

"Kalau berkurang berbahaya sekali, jadi sebagian untuk horeka dan sebagian untuk masyarakat. Jadi industri tetap dipenuhi," pungkasnya.

Dalam kesempatan yang sama, Menteri Pertanian Amran Sulaiman memastikan daging industri yang dialihkan untuk memenuhi kebutuhan masyarakat dengan harga di bawah Rp80 ribu per kilogram sudah mencakup untung bagi para importir.

Ia menyebut sebanyak 8.110 ton daging industri yang dialihkan ke pasaran itu akan dibanderol dengan harga mulai Rp70 ribu/kg hingga Rp77 ribu/kg. Ada 10 importir yang akan menjual daging-daging beku tersebut dengan alokasi yang bervariasi mulai dari puluhan, ratusan, hingga 1.000 ton.

"Kalau modal daging Rp70.000 per kg, lalu perusahaan impor menjual Rp75.000 per kg maka ada keuntungan Rp5.000 per kg. Bayangkan dia jual 1.000 ton daging dengan keuntungan Rp5 ribu maka untung totalnya Rp5 miliar," katanya.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

daging impor

Sumber : ANTARA

Editor : Martin Sihombing
Bisnis Indonesia bersama 3 media menggalang dana untuk membantu tenaga medis dan warga terdampak virus corona yang disalurkan melalui Yayasan Lumbung Pangan Indonesia (Rekening BNI: 200-5202-055).
Ayo, ikut membantu donasi sekarang! Klik Di Sini untuk info lebih lengkapnya.

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

BisnisRegional

To top