Cari berita
  • facebook
  • twitter
  • instagram
  • youtube
Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia tokotbisnis Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group bisnis tv bisnismuda

ABUPI: Pemerintah Belum Tawari Swasta Bangun Pengganti Cilamaya

Ketua Asosiasi Badan Pelabuhan Indonesia (ABUPI) Aulia Febrial Fatwa mengatakan pemerintah belum secara resmi menawarkan investasi untuk pelabuhan pengganti Cilamaya.
Veronika Yasinta
Veronika Yasinta - Bisnis.com 13 Januari 2016  |  08:14 WIB
ABUPI: Pemerintah Belum Tawari Swasta Bangun Pengganti Cilamaya
Ilustrasi
Bagikan
Bisnis.com, JAKARTA--Ketua Asosiasi Badan Pelabuhan Indonesia (ABUPI) Aulia Febrial Fatwa mengatakan pemerintah belum secara resmi menawarkan investasi untuk pelabuhan pengganti Cilamaya.
 
Menurutnya, pemerintah harus segera menetapkan pengganti Cilamaya karena kecenderungan pertambahan volume logistik yang berasal dari Bekasi, Cibitung, Cikarang, Karawang, Purwaarta, dan Cikampek.
 
Sementara, kawasan Jakarta untu menuju pelabuhan utama tyaitu Pelabuhan Tanjung Priok sudah padat sehingga boros biaya dan waktu.
 
Segera diserahkan ke swasta tanpa pendanaan dari pemerintah juga belum ada informasi resmi, jelasnya, Selasa malam (12/1/2016).
 
Sebelumnya, Sofyan Djalil, Menteri Perencanaan Pembangunan Nasional atau Kepala Bappenas mengatakan opsi utama berada di tangan swasta murni karena keterbatasan anggaran pada APBN.
 
Dia menuturkan APBN yang terbatas harys dimanfaatkan ke program yang paling dibutuhkan. Seperti diketahui, penetapan Cilamaya sebagai pelabuhan di Utara Jawa urung dilakukan karena berbenturan dengan aktivitas PT Pertamina Hulu Energi untuk pengembangan fasilitas produksi minyak dan gas.
 
Salah satu ada opsi bagaimana itu dikerjakan oleh pihak swasta. Prinsipnya kalau bisa dilakukan swasta ya swasta saja murni, ucapnya.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Simak Video Pilihan di Bawah Ini :

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

pelabuhan cilamaya
Editor : Mia Chitra Dinisari
Bagikan

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Lainnya

Berita Terkini

Terpopuler

Banner E-paper
back to top To top