Cari berita
  • facebook
  • twitter
  • instagram
  • youtube
Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group bisnis tv bisnismuda

Menteri Susi Segera Keluarkan Izin Transhipment Ikan

Surat Edaran Menteri Kelautan dan Perikanan Susi Pudjiastuti terkait dibolehkannya transshipment (alih muatan di tengah laut) dengan persyaratan tertentu, bakal segera diterbitkan.
Fatkhul Maskur
Fatkhul Maskur - Bisnis.com 18 Februari 2015  |  14:30 WIB
Menteri Susi Segera Keluarkan Izin Transhipment Ikan
Menteri Kelautan dan Perikanan Susi Pudjiastuti. - Antara/Joko Sulistyo

Bisnis.com, JAKARTA - Surat Edaran Menteri Kelautan dan Perikanan Susi Pudjiastuti terkait dibolehkannya transshipment (alih muatan di tengah laut) dengan persyaratan tertentu, bakal segera diterbitkan.

"Akan terbit Surat Edaran Menteri Kelautan dan Perikanan yang membolehkan transshipment dengan persyaratan yang sangat ketat," kata Direktur Jenderal Perikanan Tangkap Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) Gellwynn Jusuf dalam konferensi pers di kantor KKP, Jakarta, Rabu (18/2/215).

Menurut Gellwynn, penerbitan surat edaran tersebut menunggu kembalinya Menteri Kelautan dan Perikanan Susi Pudjiastuti yang kini lagi ada di Australia.

Dirjen Perikanan Tangkap KKP memaparkan, penerbitan surat edaran itu terkait "transshipment" untuk jenis kapal dengan alat penangkap ikan tertentu.

Misalnya, ujar dia, armada kapal dengan alat tangkap purse seine direncanakan untuk ditempatkan 1 observer di atas kapal penangkap yang akan memindahkan hasil tangkapan ke kapal pengangkut ikan selama 3-4 bulan.

Sedangkan untuk kapal dengan alat penangkap ikan "long line" akan ditempatkan 1 observer di kapal pengangkut yang menerima pemindahan hasil tangkapan dari kapal penangkap ikan selama 3-4 bulan.

Sebelumnya, Koalisi Rakyat untuk Keadilan Perikanan (Kiara) menegaskan kebijakan Menteri Kelautan dan Perikanan Susi Pudjiastuti terkait dengan larangan "transshipment" atau alih muatan di tengah laut tidak boleh kendor atau dilonggarkan.

"Menteri Kelautan dan Perikanan tidak boleh kendor dengan memperbolehkan kembali alih muatan di tengah laut," kata Sekretaris Jenderal Kiara Abdul Halim.

Menurut Abdul Halim, transshipment bakal berakibat antara lain kepada menghilangnya pemasukan Negara akibat hilangnya pendapatan bukan pajak di Kementerian Kelautan dan Perikanan seperti diatur di dalam PP Nomor 19 Tahun 2006, misalnya, jasa pelabuhan perikanan.

Selain itu, volume hasil tangkapan ikan yang dialihmuatkan di tengah laut tidak bisa terdata dengan pasti oleh otoritas sehingga menyulitkan pengambil kebijakan untuk mengevaluasi ketersediaan stok ikan.

"Pengalaman buruk inilah yang dialami oleh negara-negara di kepulauan Pasifik berkenaan dengan pengelolaan ikan tuna yang tidak didaratkan ke pelabuhan pangkalan sebagaimana diatur, di antaranya Kepulauan Solomon sebanyak 2,201 ton," tutur Sekjen Kiara.

Mafia Sementara itu, Kesatuan Nelayan Tradisional Indonesia (KNTI) menduga aturan yang bakal melonggarkan larangan "transshipment" (alih muatan di tengah laut) karena adanya desakan yang kuat dari elemen mafia perikanan.

"Patut diduga kelonggaran ini diberikan di bawah tekanan para mafia perikanan," ucap Ketua Umum KNTI M Riza Damanik di Jakarta, Senin (9/2/2015).

Riza mengaku heran karena satu persatu peraturan Menteri Kelautan dan Perikanan yang awalnya ketat, sekarang malah kembali dilonggarkan.

Ia menyebutkan belum terpapar jelas siapa sesungguhnya mafia perikanan yang merugikan bangsa selama puluhan tahun itu.

"Membuka kembali transshipment oleh kapal asing, tanpa terlebih dahulu mengungkap dan menghukum mafia perikanan, ataupun tanpa terlebih dahulu memperbaiki skema pengawasan adalah keputusan ceroboh yang membahayakan masa depan pangan perikanan kita," tegasnya.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Simak Video Pilihan di Bawah Ini :

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

perikanan transhipment

Sumber : Antara

Editor : Fatkhul Maskur

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini

back to top To top