Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group

Rencana Pemerintah Kaji Ulang Tata Niaga Impor Daging Sapi Dinilai Bakal Sia-sia

Perhimpunan Peternak Sapi dan Kerbau Indonesia Jawa Barat menilai rencana pemerintah mengkaji ulang tata niaga impor daging sapi akan sia-sia.
Adi Ginanjar Maulana & Ria Indhryani
Adi Ginanjar Maulana & Ria Indhryani - Bisnis.com 03 Desember 2014  |  14:22 WIB
Penjualan daging sapi secara eceran. Rencana pengkajian tata niaga impor komoditas ini dinilai bakal sia-sia - Bisnis
Penjualan daging sapi secara eceran. Rencana pengkajian tata niaga impor komoditas ini dinilai bakal sia-sia - Bisnis

Bisnis.com,  BANDUNG—Perhimpunan Peternak Sapi dan Kerbau Indonesia Jawa Barat menilai rencana pemerintah mengkaji ulang tata niaga impor daging sapi akan sia-sia.

Sekretaris PPSKI Jabar Robby Agustiar mengatakan tidak ada lagi yang harus dibenahi dalam tata niaga impor daging sapi karena yang harus menjadi perhatian lebih yakni pengawasan dari impor tersebut.

Dia mengungkapkan sejauh ini tata niaga impor sudah cukup baik sesuai dengan peraturan. Akan tetapi, yang harus diakui yakni tidak pernah adanya pengawasan dari pemerintah dalam proses impor tersebut seperti terdapat rembesan produk impor ke tingkat yang lebih bawah.

"Aturannya sudah jelas, hanya industri tertentu yang boleh mengambil produk daging sapi impor seperti hotel dan restoran. Akan tetapi, kenyataannya produk impor ini masuk ke pasar tradisional dan rupanya tidak ada sanksi bagi pelaku," katanya kepada Bisnis, Rabu (3/12/2014).

Menurutnya, selama ini tidak ada sanksi yang tegas dimana ketika satu perusahaan melanggar dan ditutup maka tidak sulit bagi perusahaan tersebut membuat perusahaan baru dengan nama berbeda.

Robby melanjutkan hal lain yang rentan dengan impor adalah distorsi harga daging sapi yang merugikan peternak lokal seperti yang selama ini sudah terjadi.

Untuk beberapa bagian, katanya, harga yang ditawarkan dari produk impor ini terkadang lebih murah dari produk lokal.
 
"Memang pasar kita masih butuh daging sapi impor untuk beberapa item tertentu. Akan tetapi, saat ini saja sudah mengancam peternak lokal karena harganya yang bersaing," ujarnya.

Selain itu, ujarnya, seharusnya pemerintah juga mengkoneksikan antara importir daging sapi dan rumah potong hewan lokal dengan mengedukasi item-item yang dibutuhkan agar dapat bersaing.

Kepala Disnak Jabar Dody Firman Nugraha menyatakan agar populasi sapi potong meningkat pihaknya menggenjot beberapa program antara lain kegiatan optimalisasi dan pembibitan sapi potong melalui village breeding centre.

“Jika populasi sapi potong lokal dapat dikembangkan cukup signifikan, diharapkan berpotensi usaha dapat diandalkan masyarakat,” katanya.

Dia berkeinginan masyarakat memelihara  sapi potong lokal dalam jumlah banyak tapi efisien dan untung.

"Makanya pemerintah berupaya keras agar kemampuan peternak, jumlah produksi, termasuk kapasitas pembibitan bisa terus ditingkatkan," ujarnya.(k29/k31)

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

daging impor
Editor : Ismail Fahmi
Bisnis Indonesia bersama 3 media menggalang dana untuk membantu tenaga medis dan warga terdampak virus corona yang disalurkan melalui Yayasan Lumbung Pangan Indonesia (Rekening BNI: 200-5202-055).
Ayo, ikut membantu donasi sekarang! Klik Di Sini untuk info lebih lengkapnya.

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

BisnisRegional

To top