Meski Mei Surplus, Neraca Dagang Dinilai Belum Membaik

Perbaikan performa perniagaan Indonesia, yang tercermin dalam surplus neraca dagang Mei senilai US$70 juta, dianggap belum berkelanjutan karena peningkatan kinerja ekspor tidak cukup kuat jika dibandingkan dengan terjun bebasnya angka impor.nn
Wike Dita Herlinda | 02 Juli 2014 17:00 WIB
Barang ekspor. Neraca dagang dinilai belum membaik meski Mei surplus

Bisnis.com, JAKARTA—Perbaikan performa perniagaan Indonesia, yang tercermin dalam surplus neraca dagang Mei senilai US$70 juta, dianggap belum berkelanjutan karena peningkatan kinerja ekspor tidak cukup kuat jika dibandingkan dengan terjun bebasnya angka impor.

Berbagai kalangan menilai struktur perdagangan  masih rapuh, karena pertumbuhan ekspor lebih bertumpu secara volume pada kenaikan permintaan. Padahal, kondisi harga komoditas di pasar internasional saat ini tengah lesu.

Pada saat bersamaan, torehan surplus disinyalir lebih dipicu oleh anjloknya impor di tengah pelemahan nilai tukar rupiah dan pascaberakhirnya musim impor barang konsumsi jelang Lebaran pada April.

Ketua II Gabungan Importir Nasional Seluruh Indonesia (GINSI) Erwin Taufan berpendapat pembukuan surplus pada bulan kelima 2014 bukan dipicu oleh membaiknya rapor neraca perdagangan, yang secara kumulatif masih tekor US$0,83 miliar.

“Sebenarnya kalau kita lihat, surplus tersebut bukan neraca kita yang membaik, tapi dikarenakan impor menurun dan dolarnya juga naik. Ini saya yakin tidak akan stabil, karena infrastruktur kita tidak kuat dan regulasi kita banyak yang tumpang tindih,” katanya kepada Bisnis, Rabu (2/7/2014).

Impor Mei mencapai US$14,76 miliar, turun 9,23% dibandingkan bulan sebelumnyam dan merosot tajam 11,43% dibandingkan bulan yang sama tahun lalu. Impor migas naik 0,38% menjadi US$3,71 miliar dan impor nonmigas turun 12,05% menjadi US$11,05 miliar.

Di sisi lain, ekspor Mei menyentuh US$14,83 miliar, naik 3,73% dari April dan turun 8,11% dari Mei 2013. Ekspor nonmigas Mei tahun ini mencapai US$12,45 miliar, naik 6,95%  dari bulan sebelumnya, sedangkan ekspor migas menyentuh US$2,37 miliar atau turun 10,4%.

Kepala Badan Pusat Statistik (BPS) Suryamin mengatakan nilai ekspor yang bertumbuh sebenarnya merefleksikan permintaan yang mulai menguat. Namun, dia juga mewaspadai penurunan total impor yang terlalu dalam.

“Ini menunjukkan bukti bahwa impor nonmigas mulai turun karena memasuki bulan puasa. Semua kelompok barang menurun impornya. Namun, impor barang konsumsi mengalami pertumbuhan share dibandingkan dengan periode yang sama 2013. Tinggal bagaimana pemerintah mengendalikannya supaya ekspornya lebih meningkat,” katanya.

Wamen Perdagangan Bayu Krisnamurthi sebelumnya menjelaskan surplus tersebut didorong oleh tekanan impor yang sedikit berkurang, setelah membengkak dan menyebabkan desfisit terburuk dalam 9 bulan pada April.

“Impor April agak tinggi, karena 3 bulan sebelum Ramadan memang lazimnya impor melonjak untuk penambahan stok. Adapun, impor pada Mei sudah mulai menuju normal,” jelasnya, tanpa menjabarkan apakah kinerja ekspor telah cukup membaik atau belum.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
Neraca Perdagangan

Editor : Ismail Fahmi

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya



Top