Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group bisnis tv bisnismuda

Bea Logistik Naik: Pengusaha Desak Pembenahan Infrastruktur

Kalangan pengusaha ekspor impor Jawa Tengah mendesak pemerintah setempat membenahi infrastruktur guna menekan bea pengiriman barang dari dan ke Pelabuhan Tanjung Emas Semarang.
Pamuji Tri Nastiti
Pamuji Tri Nastiti - Bisnis.com 20 Februari 2014  |  17:44 WIB

Bisnis.com, SEMARANG - Kalangan pengusaha ekspor impor Jawa Tengah mendesak pemerintah setempat membenahi infrastruktur guna menekan bea pengiriman barang dari dan ke Pelabuhan Tanjung Emas Semarang.

Desakan semakin besar pascabencana banjir yang terjadi di wilayah Pantura Timur meliputi Kudus, Jepara dan Pati juga wilayah lain di Kendal dan Pekalongan.

Wakil Ketua Gabungan Pengusaha Ekspor Indonesia (GPEI) Jateng Rio Rianto menuturkan banjir sempat melumpuhkan aktivitas pergiriman barang produksi dan bahan baku tekstil ke sejumlah industri.

"Bahkan pascabanjir saat ini akses rusak di Jepara-Kudus dan Kendal juga menghambat. Ini berpotensi meningkatkan delivery cost hingga 10%," ujarnya kepada Bisnis, Kamis (20/2/2014).

Menurut Rio rerata biaya logistik pengiriman barang ekspor dari lokasi industri ke terminal peti kemas atau sebaliknya hanya 7% dan membengkak hingga 10% karena tersendat jalan rusak.

"Pembenahan infrastruktur penting karena pada saat normal saja sudah bermasalah apalagi pascakerusakan akibat banjir," tambahnya.

Selanjutnya, pengusaha berharap optimalisasi rel kereta api ganda yang sekarang sudah difungsikan untuk jalur tertentu. Selain itu juga meminta kelanjutan aktivasi rel kereta api menuju Tanjung Emas.  

Ketua DPD Indonesian National Shipowner Assosiation (Insa) Jateng M Ridwan mengatakan keterlambatan bongkar muat peti kemas terganggu jika barang tidak tepat waktu akibat kemacetan atau ketidaklancaran angkutan.

Banjir di Pantura Timur akhir Januari lalu mengakibatkan penuhnya lapangan penumpukan atau yard occupancy ration (YOR) hingga 90% atau 17.500 boks.

"Kalau YOR penuh akhirnya bongkar muat jadi lambat, normalnya 60%-65% per hari dengan volume 20 boks per jam bisa turun 10 boks. Jika infrastruktur tidak dibenahi bisa memperlambat lagi," tuturnya.  

Adapun, General Manager Terminal Peti Kemas Semarang (TPKS) Iwan Sabatini mengaku telah menerima keluhan gangguan infrastruktur menuju area penumpukan barang.  

Iwan menuturkan selama ini pengiriman barang masih banyak terkendala akibat truk pengangkut terjebak di jalan macet atau jalan yang rusak.

Proses keterlambatan itu berdampak pula pada pengeluaran barang yang juga akan telat. Kendati demikian TPKS tetap menarget pertumbuhan arus bongkar muat 8% tahun ini mencapai 520.000 Teus.

Kepala Bidang Perdagangan Luar Negeri Disperindang Jateng Ratih Susyati Sudamar menguapayakan masukan pengusaha segera mendapat tanggapan pemprov.

"Sudah ada tim Pepida (Peningkatan ekspor dan investasi daerah) dari beberapa instansi yang mendata pengaruh dampak banjir pada perdagangan luar negeri, termasuk menjembatani upaya perbaikan infrastruktur," katanya.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

biaya logistik
Editor : Martin Sihombing
Bisnis Indonesia bersama 3 media menggalang dana untuk membantu tenaga medis dan warga terdampak virus corona yang disalurkan melalui Yayasan Lumbung Pangan Indonesia (Rekening BNI: 200-5202-055).
Ayo, ikut membantu donasi sekarang! Klik Di Sini untuk info lebih lengkapnya.

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

BisnisRegional

To top