Cari berita
  • facebook
  • twitter
  • instagram
  • youtube
Bisnis.com

Konten Premium

Epaper Bisnis Indonesia tokotbisnis Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group bisnis tv bisnismuda

Pelaku Industri Siap Mamin Naikkan Harga 15%

Pelaku industri makanan dan minuman (mamin) di Indonesia tahun depan akan menaikkan harga produk 10%-15% karena meningkatnya biaya produksi. Selain itu, industri olahan mamin tahun depan diprediksi stagnan atau tumbuh 6% seperti tahun ini.
Muhammad Khamdi
Muhammad Khamdi - Bisnis.com 20 Desember 2013  |  22:33 WIB
Pelaku Industri Siap Mamin Naikkan Harga 15%
Bagikan

Bisnis.com, JAKARTA - Pelaku industri makanan dan minuman (mamin) di Indonesia tahun depan akan menaikkan harga produk  10%-15% karena meningkatnya biaya produksi. Selain itu, industri olahan mamin tahun depan diprediksi stagnan atau tumbuh 6% seperti tahun ini.

Sekretaris Jenderal Gabungan Pengusaha Makanan dan Minuman seluruh Indonesia (Gapmmi) Franky Sibarani mengatakan tantangan industri olahan makanan dan minuman pada tahun pemilu lantaran kenaikan biaya produksi. Berbagai faktor meningkatnya biaya produksi a.l terus meningkatnya suku bunga acuan atau BI Rate yang kini sudah mencapai 7,5%. Padahal, awal tahun ini, BI Rate dibuka dengan 5,75%.

“Peningkatan biaya produksi bisa mendorong kenaikan harga jual [mamin] 10-15%. Tentu tidak semua [jenis mamin] ya. Karena ada beberapa ketentuan yang harus diperhitungkan,” kata Franky kepada Bisnis, Jumat (20/12/2013).

Menurutnya, bisa saja pelaku industri tidak menaikkan harga jual olahan mamin. Namun satu sisi, katanya, pelaku industri olahan mamin akan berpikir keras untuk mengurangi isi dalam kemasan mamin tersebut. “Mereka juga tak mau merugi terlalu banyak. Bagaimana caranya produksi tetap berjalan tapi tidak mengecewakan konsumen,” ujar Franky.

Dia menambahkan rencana kenaikan tarif dasar listrik (TDL) tahun depan sangat berdampak pada industri olahan mamin. Pihaknya tidak menampik akan ada pengurangan karyawan atau pemutusan hubungan kerja (PHK) jika kebijakan pemerintah menaikkan TDL tahun depan tetap dilakukan.

“Belum lagi tahun ini ada kenaikan upah buruh 30-70%. Ditambah tahun ini ada juga kenaikan harga bahan bakar minyak (BBM). [Pelaku] industri tidak siap dengan itu semua,” terangnya.

Franky mengakui pertumbuhan industri olahan mamin tahun depan diprediksi 6% atau sama dengan tahun ini. Prediksi itu berdasarkan keterangan pemerintah yang menyatakan pertumbuhan industri pada tahun depan sekitar 6,4%.

“Bisa [tumbuh] sama dengan tahun ini saja sudah lumayan. Untuk tumbuh di atas 6% rasanya masih sulit diprediksi,” terangnya.

Berdasarkan catatan Gappmi, pertumbuhan industri makanan pada tahun 2013 sekitar 6% hingga akhir tahun. Jika dibandingkan pada 2012 terjadi penurunan, karena pertumbuhan industri mamin olahan 2012 tercatat sekitar 7,74%.

Ketua Umum GAPPMI Adhi S Lukman mengakui industri mamin olahan tahun depan tidak mengalami pertumbuhan. “Tidak ada peningkatan signifikan. Tahun ini juga tidak ada gejolak luar biasa terhadap suplai makanan dan minuman. Penjualan hampir sama dengan tahun lalu,” terangnya.

Kendati demikian, permintaan mamin menjelang Natal dan Tahun Baru 2014 meningkat 15% dari rata-rata bulanan. Hal itu, katanya, wajar lantaran kebutuhan akan konsumsi mamin bertambah pada hari-hari besar nasional. 

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Simak Video Pilihan di Bawah Ini :

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

industri makanan dan minuman tdl
Editor : Fatkhul-nonaktif
Bagikan

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Lainnya

Berita Terkini

back to top To top