Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group bisnis tv bisnismuda

BM Anti Dumping Ancam Industri Air Minum Kemasan

Bisnis.com, JAKARTA - Pengajuan bea masuk antidumping (BMAD) untuk bahan baku plastik polyethylene terephthalate (PET) dikhawatirkan dapat membuat industri makanan dan minuman atau air minum dalam kemasan gulung tikar.
Peni Widarti
Peni Widarti - Bisnis.com 20 September 2013  |  19:39 WIB

Bisnis.com, JAKARTA - Pengajuan bea masuk antidumping (BMAD) untuk bahan baku plastik polyethylene terephthalate (PET) dikhawatirkan dapat membuat industri makanan dan minuman atau air minum dalam kemasan gulung tikar.

Parmaningsih Hadinegoro, Vice President Corporate Secretary PT Tirta Investama - Aqua Group, mengatakan bila pengenaan bea masuk anti dumping diterapkan terhadap barang impor juga akan menyebabkan kenaikan PET lokal karena sifat pasarnya yang global.

"Pemain industri makanan dan minuman kan ratusan, kalau itu diterapkan mungkin yang bisa bertahan hanya perusahaan besar saja, sedangkan industri kecilnya akan kesulitan untuk bertahan," katanya kepada Bisnis di sela-sela acara peluncuran buku PR Talk, di Jakarta, Jumat (20/9/2013).

Dia menjelaskan penggunaan PET terhadap produksi air minum dalam kemasan (AMDK) yakni sekitar 60% - 70% bergantung pada jenis produknya.Sehingga, lanjutnya, pengenaan BMAD sangat berpegaruh, dan perusahaan air minum dalam kemasan juga kesulitan dalam menyiasati produksi dan harganya.

Apalagi, kata Parmaningsih, beberapa waktu lalu, perusahaan air minum dalam kemasan sudah menaikan harga jual produk sekitar 2% - 3% akibat kenaikan harga bahan bakar minyak (BBM), tekanan dolar AS terhadap rupiah, kenaikan upah karyawan dan daya beli masyarakat yang menurun.

"Itu pun tidak semua jenis air minum kemasan yang naik harganya. Kami kalau menaikan harga harus betul-betul hati-hati," katanya.Parmaningsih mengatakan hingga semester I/2013 ini, pertumbuhan produksi dari Aqua Group yakni 10%.

"Sampai akhir semester II/2013 ini kami belum bisa mengatakan seperti apa pertumbuhannya, karena banyak faktor ekonomi tadi," imbuhnya.Meski begitu, katanya, pasar AMDK setiap tahun tumbuh di atas 12% sehingga masih banyak potensi pertumbuhan produksi.

"Masyarakat kita kan memang masih banyak yang mengonsumsi air minum rebusan,".Aqua Group sebelumnya menargetkan pertumbuhan penjualan produk mencapai 17% pada tahun ini. Pertumbuhan itu salah satunya disokong oleh beroperasinya pabrik baru Aqua Group di Solok, Sumatra Barat Pabrik tersebut merupakan pabrik ketiga Aqua yang berada di Sumatra setelah sebelumnya terdapat pabrik di Lampung dan Brastagi, Sumatra Utara.

Volume penjualan Aqua di Jawa mencapai 60% dari seluruh penjualan produk air mineralnya secara nasional, sedangkan di Sumatra mencapai 20%.Kapasitas produksi 16 pabrik Aqua mencapai 10 miliar liter per tahun dengan pangsa pasar utama berada di kawasan Jabodetabek yakni sekitar 70% dari total penjualan perusahaan.

 


Simak Video Pilihan di Bawah Ini :

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

aqua industri makanan dan minuman bea masuk anti dumping
Editor : Martin Sihombing

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

Terpopuler

Download Aplikasi E-Paper sekarang dan dapatkan FREE AKSES selama 7 hari!
qrcode bisnis indonesia logo epaper

BisnisRegional

To top