Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group

Impor Kayu Bulat Melonjak 1.144%

Bisnis.com, JAKARTA - Impor kayu bulat sepanjang semester I/2013 tercatat mencapai 482.276 m3 atau naik drastis 1.144% dibandingkan periode yang sama tahun lalu yang tercatat hanya 38.745 m3.
Ana Noviani
Ana Noviani - Bisnis.com 03 Agustus 2013  |  05:27 WIB

Bisnis.com, JAKARTA - Impor kayu bulat sepanjang semester I/2013 tercatat mencapai 482.276 m3 atau naik drastis 1.144% dibandingkan periode yang sama tahun lalu yang tercatat hanya 38.745 m3.

Sekretaris Jenderal Kementerian Kehutanan Hadi Daryanto menuturkan kenaikan impor kayu bulat bagus bagi industri kayu olahan di Tanah Air.

"Bagus dong buat industri pengolahan kita," ujarnya ketika ditemui di kantornya, Jumat (2/8).

Menurutnya, impor kayu bulat ke Indonesia dikenakan bea masuk sebesar 0%.

Adapun negara asal kayu bulat impor a.l. Australia dan Eropa.

"Kita banyak juga impor kayu Oak dari Jerman," kata Hadi.

Kayu impor, imbuhnya, mayoritas dimanfaatkan untuk produksi kayu lapis, terutama untuk bagian face back (muka depan dan muka belakang) kayu lapis.

Adapun bagian dalam menggunakan kayu lokal seperti kayu karet, sengon, dan jambon.

Berdasarkan data Kemenhut, impor kayu bulat Indonesia mencapai 88.981 m3 pada 2010, 67.808 m3 pada 2011, dan 221.485 m3 pada 2012.

Sementara itu, Kementerian Perdagangan mencatat nilai impor kayu dan barang dari kayu mencapai US$168,78 juta sepanjang Januari-Mei 2013. Nilai tersebut terbilang turun dibandingkan periode yang sama tahun lalu, yakni US$181,38 juta. Secara kumulatif, nilai impor kayu dan barang dari kayu pada 2012 tercatat US$409,2 juta.

 

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

impor kayu bulat
Editor : Sutarno
Bisnis Indonesia bersama 3 media menggalang dana untuk membantu tenaga medis dan warga terdampak virus corona yang disalurkan melalui Yayasan Lumbung Pangan Indonesia (Rekening BNI: 200-5202-055).
Ayo, ikut membantu donasi sekarang! Klik Di Sini untuk info lebih lengkapnya.

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

BisnisRegional

To top