Cari berita
  • facebook
  • twitter
  • instagram
  • youtube
Bisnis.com

Konten Premium

Epaper Bisnis Indonesia tokotbisnis Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group bisnis tv bisnismuda

6 RUAS TOL DALAM KOTA: Bukan Solusi Kemacetan Jakarta

BISNIS.COM, JAKARTA- Pakar transportasi menilai kemacetan di Jakarta tidak serta merta dijawab dengan penambahan ruas jalan termasuk pembangunan enam ruas tol dalam kota. Penambahan jalan secara tidak langsung akan menyebabkan masyarakat memiliki kendaraan
Thomas Mola
Thomas Mola - Bisnis.com 29 April 2013  |  17:46 WIB
6 RUAS TOL DALAM KOTA: Bukan Solusi Kemacetan Jakarta
Bagikan

BISNIS.COM, JAKARTA- Pakar transportasi menilai kemacetan di Jakarta tidak serta merta dijawab dengan penambahan ruas jalan termasuk pembangunan enam ruas tol dalam kota. Penambahan jalan secara tidak langsung akan menyebabkan masyarakat memiliki kendaraan yang dipastikan akan menyebabkan kemacetan.

Pakar Transportasi Universitas Indonesia sekaligus Sekretaris Jenderal Masyarakat Transportasi Indonesia (MTI) Ellen Tangkudung mengatakan pemerintah harus pindahkan masyarakat yang menggunakan kendaraan pribadi kepada kendaraan umum.

"Harus pindahkan, bukan pilihan lagi. Jika membangun jalan terus sampai kapan lahan Jakarta mampu," jelasnya ketika dihubungi Bisnis, Senin (29/4/2013).

PolMark Research pada pertengahan bulan kemarin merilis hasil survei yang menyatakan mayoritas masyarakat Jakarta memilih penambahan ruas jalan menjadi solusi mengatasi kemacetan Jakarta dibandingkan dengan pembangunan monorel dan mass rapid transit MRT.

Sebanyak 35,8% responden memilih penambahan ruas jalan baru, disusul 17,2% untuk penertiban parkir liar dan 12,9% untuk pembatasan kendaraan pribadi. Hasil itu cukup mencengangkan karena menggungguli pembangunan mass rapid transit (MRT) dan monorel yang masing-masing hanya 10,6% dan 8,6%.

Ellen menilai hasil survei itu tidak dapat disalahkan karena pengalaman masyarakat dibentuk dengan melihat jalan tol sebagai suatu model infrastruktur yang berguna untuk kelancaran lalu lintas. Namun jika kemacetan selalu dijawab dengan penambahan ruas jalan maka ruang Jakarta akan makin sempit.

"Hasil survei itu benar, tetapi hasil itu tidak lantas menjadi solusi. Butuh cara pikir menyeluruh bukan setiap kemacetan langsung dijawab dengan pembangunan jalan. Pembangunan sarana transportasi publik seperti MRT adalah salah satu solusi," jelasnya.

Sementara data kementerian Pekerjaan Umum mencacat di DKI Jakarta penambahan kendaraan berbanding terbaik dengan penambahan jalan. Jika penjualan kendaraan bertumbuh 9%, maka penambahan jalan hanya pertumbuh 0,01% dari luas Jakarta. Tambah lagi perbandingan panjang jalan dan luas Jakarta masih sekitar 6% atau jauh dari kondisi ideal sebagai kora besar yakni 12%-15%.

Ellen menilai pembangunan jalan hanya merangang masyarakat untuk memiliki dan menggunankan kendaraan pribadi. Padahal jumlah pengguna kendaraan pribadi itu yang harus ditekan.

Berdasarkan penelitian, Ia menjelaskan dalam lima tahun terakhir rata-rata jalan tol dalam kota selalu macet, sehingga penambahan jalan jelas bukan solusi yang bijak.

"Masyarakat akan memiliki mobil karena pendapatan yang makin baik, BBM yang murah, parkir yang murah. Selain itu kendaraan umum mayoritas tidak terurus, kotor dan tidak tepat waktu. Sehingga transportasi publik harus dibangun" jelas Ellen.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Simak Video Pilihan di Bawah Ini :

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

mrt transportasi publik enam ruas tol dalam kota survei polmark penambahan jalan
Editor : Fahmi Achmad
Bagikan

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Lainnya

Berita Terkini

back to top To top