Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group

DUA HARGA BBM: Ini Yang Dikhawatirkan Jika Tak Pasti Penerapannya

BISNIS.COM,JAKARTA -- Jika terus diulur, dampak inflasi akibat penerapan kebijakan dua harga bahan bakar minyak (BBM) bersubsidi akan merembet hingga awal 2014.
Bambang Supriyanto
Bambang Supriyanto - Bisnis.com 26 April 2013  |  18:25 WIB

BISNIS.COM,JAKARTA -- Jika terus diulur, dampak inflasi akibat penerapan kebijakan dua harga bahan bakar minyak (BBM) bersubsidi akan merembet hingga awal 2014.

Adapun kebijakan ini diproyeksi memberikan tambahan inflasi sekitar 0,8%.

"Penaikan harga BBM bersubsidi melalui wacana penerapan dua harga berisiko menimbulkan dampak inflasi selama 3-6 bulan. Kalau dual price itu perkiraan dalam tahun ini maksimal tambahan inflasinya bisa 0,8%. Itu kalau diterapkan pada Mei 2013," ujar Bambang P.S. Brodjonegoro, Plt. Kepala Badan Kebijakan Fiskal Kementerian Keuangan, Jumat (26/4).

Apabila pemerintah memundurkan rencana penerapan kebijakan yang sedianya akan diterapkan pada Mei, imbuhnya, dampak inflasinya akan terasa pada tahun depan.

"Second round atau third round-nya akan masuk ke tahun depan. Jadi kan dampaknya tidak hanya satu bulan, dampaknya berbulan-bulan," tuturnya.

Menurutnya, dampak inflasi gelombang pertama dari penyesuaian harga BBM terasa dalam 3 bulan pertama. Tiga bulan kedua setelah penerapan kebijakan tersebut menjadi second round effect yang dampaknya relatif lebih kecil.

"Inflasi karena kebijakan harga BBM itu hanya inflasi sesaat. Jadi bukan inflasi yang akan terus menerus terjadi," kata Bambang.

Dengan demikian, apabila kebijakan tersebut diterapkan pada Mei, maka dampak inflasinya akan terakumulasi sepanjang 2013. Dengan demikian, laju inflasi pada 2014 akan kembali normal, dengan catatan harga pangan terkendali.

Formulasi kebijakan yang berbeda dibandingkan penaikan harga BBM secara umum yang diterapkan pada 2005 dan 2008 lalu dinilai Bambang akan menimbulkan dampak inflasi yang agak berbeda. Apalagi, penaikan harga tidak diterapkan pada kelompok angkutan umum dan angkutan barang.

Namun, Bambang menegaskan Mei adalah momen yang paling tepat apabila pemerintah ingin menerapkan kebijakan dual price. "Mei adalah momen terbaik, tetapi ekspektasi inflasinya harusnya lebih minimal karena angkutan umum pelat kuning tidak naik."

Sementara itu, Ekonom Bank Danamon Dian Ayu Yustina mengatakan penerapan dual price BBM bersubsidi akan memberikan tambahan inflasi 2013 sebesar 0,55%.

"Kalkulasi kami, kalau pemerintah sukses mengalihkan 75% konsumsi mobil pribadi menjadi BBM subsidi Rp6.500/liter, dampak inflasinya relatif terkendali, sekitar 0,41%," ujarnya dalam siaran pers, Kamis (24/04).

Adapun dampak tidak langsungnya diproyeksi mencapai 0,14%, a.l. akibat penaikan harga pangan seiring peningkatan ongkos angkutan barang yang menggunakan kendaraan plat hitam.

"Ini akan membuat proyeksi inflasi sepanjang tahun naik dari 5,47% year-on-year menjadi 6,02% (yoy)," kata Dian.

Dalam APBN 2013, pemerintah menargetkan tingkat inflasi pada level 4,9%. Namun, dalam satu kuartal pertama 2013, realisasi inflasi sudah mencapai 2,43% (year to date).

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

Harga BBM pertamina Inflasi esdm bbmbersubsidi

Sumber : Ana Noviani

Editor : Bambang Supriyanto
Bisnis Indonesia bersama 3 media menggalang dana untuk membantu tenaga medis dan warga terdampak virus corona yang disalurkan melalui Yayasan Lumbung Pangan Indonesia (Rekening BNI: 200-5202-055).
Ayo, ikut membantu donasi sekarang! Klik Di Sini untuk info lebih lengkapnya.
0 Komentar

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

BisnisRegional

To top