Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Impor Bahan Baku Anjlok 9,28%, Ekonom: Pertumbuhan Industri Tak Merata

Seiring penerapan Lartas impor, pengapalan bahan baku industri pun mengalami penurunan.
Ilustrasi impor bahan baku/JIBI
Ilustrasi impor bahan baku/JIBI

Bisnis.com, JAKARTA- Pertumbuhan industri manufaktur dinilai masih tak merata seiring dengan lesunya importasi bahan baku/penolong dan barang modal untuk operasional produksi.

Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat impor bahan baku/penolong turun 9,28% month-to-month (mtm) pada April 2024. Secara kumulatif, nilai impor komoditas tersebut periode Januari-April turun 0,84%. 

Tak hanya itu, impor barang modal juga mengalami penurunan 8,10% yoy pada April 2024 dan tumbuh 2,76% secara kumulatif.

Ekonom Center of Reform on Economics (Core) Yusuf Rendy Manilet mengatakan permintaan bahan baku dan barang modal turun disebabkan kondisi pascalebaran yang membuat pesanan kembali normal setelah meningkat.

"Sebenarnya ini bisa juga menjadi indikasi awal bahwa di bulan April pertumbuhan industri manufaktur itu tidak merata," kata Yusuf kepada Bisnis, Kamis (16/5/2024).

Untuk diketahui, impor bahan baku penolong menyumbang 74,61% dari total impor pada april 2024. Nilai impor bahan baku/penolong pada April sebesar US$11,98 miliar dari total impor RI sebesar US$16,06 miliar.

Penurunan nilai impor bahan baku/penolong April lalu memberikan andil lesunya impor keseluruhan sebesar 6,82%. Adapun, penurunan ini utamanya disebabkan oleh turunnya nilai impor mesin atau perlengkapan elektronik dan bagainnya.

Dalam hal ini, dia menyoroti pemberlalkuan aturan larangan dan pembatasan (lartas) impor yang memicu turunnya total impor April. Kondisi ini menjadi indikasi industri mengandalkan produk bahan baku domestik.

Namun, Yusuf menyebut lartas impor lebih banyak berdampak pada perubahan persentase impor barang konsumsi April dibandingkan dengan bulan sebelumnya pada Maret yang mengalami kontraksi hingga 23%.

"Ini yang saya katakan meskipun memberikan dampak tetapi dampak dari kebijakan lantas impor ini relatif terbatas," tuturnya.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News dan WA Channel


Editor : Kahfi
Konten Premium

Dapatkan informasi komprehensif di Bisnis.com yang diolah secara mendalam untuk menavigasi bisnis Anda. Silakan login untuk menikmati artikel Konten Premium.

Artikel Terkait

Berita Lainnya

Berita Terbaru

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

# Hot Topic

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Rekomendasi Kami

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Foto

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Scan QR Code Bisnis Indonesia e-paper