Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Konflik Iran vs Israel Berpotensi Bikin Impor Mesin Tersendat

Konflik Iran vs Israel yang memanas berpotensi membuat terhambatnya operasional produksi dan impor mesin.
Ilustrasi kontainer berisi barang impor Selasa (12/9/2023). Bloomberg/SeongJoon Cho
Ilustrasi kontainer berisi barang impor Selasa (12/9/2023). Bloomberg/SeongJoon Cho

Bisnis.com, JAKARTA -- Impor permesinan berpotensi mengalami kendala logistik hingga terhambatnya operasional produksi akibat eskalasi konflik Iran vs Israel. Rantai pasok industri manufaktur pun terancam terganggu. 

Ketua Umum Gabungan Industri Pengerjaan Logam dan Mesin Indonesia (GAMMA) Dadang Asikin mengatakan dampak utama konflik ke RI yakni gangguan rantai pasok industri terutama jalur transportasi yang menggunakan Terusan Suez untuk lalu lintas transaksi produk komoditas. 

"Komponen produksi atau barang modal seperti mesin-mesin industri dari Eropa akan terhambat atau mengalami kenaikan di ongkos transportasi kargo," kata Dadang kepada Bisnis, Selasa (16/4/2024). 

Dadang juga menyoroti dampak lainnya, selain ganguan rantai pasok komoditas dan melonjaknya ongkos logistis maka konflik berkepanjangan ini akan mengganggu ketersediaan spare part untuk operasional dan pemeliharaan mesin-mesin produksi.

Meskipun, impor mesin/perlengkapan elektrik dari Eropa memiliki porsi yang rendah, namun komponen sejumlah negara di kawasan tersebut penting untuk keberlangsungan industri. 

Merujuk data Badan Pusat Statistik, salah satu negara importir mesin ke Indonesia yakni Jerman. RI mengimpor sejumlah mesin untuk industri senilai US$1,01 miliar pada 2021. 

Nilai impor mesin dari Jerman terus meningkat pada 2022 yang tembus US$1,3 miliar. Namun, angka nya turun pada 2023 menjadi US$988,4 miliar. 

Lebih lanjut, Dadang memberikan dampak terkait gangguan suplai minyak hingga memengaruhi harga minyak global. Gejolak harga minyak berpotensi akan mendorong adjustment baru untuk menetapkan harga dasar minyak. 

"Pelemahan kurs rupiah juga dapat menurunkan market confidence, karena menjadi rekor terlemah sejak tahun 1998. Confidence-level investor akan tertekan dan berisiko menjadi lingkaran setan yang tak berujung," tuturnya. 

Untuk itu, pemerintah diminta untuk segera mengambil antisipasi yang tepat dalam hal ini oleh Bank Indonesia dan Otoritas Jasa Keuangan untuk menjaga optimisme pelaku pasar tetap optimis.

Pasalnya, antisipasi eskalasi konflik penting untuk menjaga stabilitas keberlangsungan industri manufaktur yang terdampak, sekaligus menjaga industri tetap berproduksi dengan optimal. 

"Arahan kebijakan suku bunga dan strategi pengendalian nilai tukar/kestabilan moneter kepada pasar yang sedang butuh sentimen confidence, serta BI perlu mengamankan/menenangkan pasar," jelasnya. 

Di sisi lain, Dadang menilai kebijakan penting lainnya yang perlu diambil oleh pemerintah terkait arahan kebijakan energi, khusunya penyesuaian harga BBM jangka menengah, sekaligus pengendalian inflasi.

Sebelumnya, Kementerian Perindustrian (Kemenperin) tengah meracik sejumlah kebijakan insentif dan relaksasi impor bahan baku untuk mengantisipasi dampak gangguan rantai pasok industri imbas konflik memanas di Timur Tengah.

Menteri Perindustrian Agus Gumiwang Kartasasmita mengatakan pihaknya terus memantau gejolak geopolitik dunia, terlebih setelah konflik panas Iran dan Israel. Eskalasi konflik diwaspadai berdampak ke negara-negara Asean, termasuk Indonesia.

Agus memaparkan solusi yang dirumuskan pihaknya meliputi penyiapan insentif impor bahan baku industri dari Timur Tengah. Hal ini lantaran potensi gangguan suplai bahan baku industri, khususnya sektor industri kimia hulu yang mengimpor sebagian besar bahan baku dari kawasan tersebut.

"Relaksasi impor bahan baku tertentu juga dibutuhkan untuk kemudahan memperoleh bahan baku, mengingat negara-negara lain juga berlomba mendapatkan supplier alternatif untuk memenuhi kebutuhan bahan baku industrinya," jelasnya.

Tak hanya itu, Kemenperin juga akan mempercepat langkah-langkah pendalaman, penguatan,maupun penyebaran struktur industri, yang bertujuan untuk segera meningkatkan program substitusi impor.


Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News dan WA Channel

Konten Premium

Dapatkan informasi komprehensif di Bisnis.com yang diolah secara mendalam untuk menavigasi bisnis Anda. Silakan login untuk menikmati artikel Konten Premium.

Artikel Terkait

Berita Lainnya

Berita Terbaru

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

# Hot Topic

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Rekomendasi Kami

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Foto

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Scan QR Code Bisnis Indonesia e-paper