Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Ramadan dan Lebaran Bikin Ekonomi Kuartal I/2024 Tumbuh 5%

Momentum Ramadan dan Lebaran 2024 diperkirakan dapat mendorong pertumbuhan ekonomi kuartal I/2024 menembus 5%.
Ramadan dan Lebaran Bikin Ekonomi Kuartal I/2024 Tumbuh 5%. Warga mengantre untuk membeli aneka makanan khas buka Puasa di Pasar Takjil Benhil, Jakarta Pusat pada Selasa (21/3/2024). JIBI/Ahmadi Yahya
Ramadan dan Lebaran Bikin Ekonomi Kuartal I/2024 Tumbuh 5%. Warga mengantre untuk membeli aneka makanan khas buka Puasa di Pasar Takjil Benhil, Jakarta Pusat pada Selasa (21/3/2024). JIBI/Ahmadi Yahya

Bisnis.com, JAKARTA – Momentum Ramadan dan Lebaran 2024 diperkirakan dapat mendorong pertumbuhan ekonomi kuartal I/2024 menembus 5%.

Kepala Ekonom Bank Permata Josua Pardede memperkirakan pertumbuhan ekonomi Indonesia pada kuartal I/2024 akan mencapai kisaran 5% hingga 5,1%.

“Kami masih lihat pada kuartal I/2024 ekonomi Indonesia cukup berpeluang untuk tumbuh di kisaran 5%–5,1%,” katanya melalui keterangan tertulis, dikutip Kamis (11/4/2024).

Josua menjelaskan, pertumbuhan ekonomi pada kuartal pertama tahun ini akan didorong oleh sejumlah faktor. Pertama, meningkatnya belanja pemerintah terutama terkait penyaluran bantuan sosial dan pelaksanaan Pemilu.

Tercatat, belanja negara hingga 15 Maret 2024 meningkat sebesar 18.1% jika dibandingkan dengan periode yang sama pada tahun lalu.

Kedua, pertumbuhan didorong karena adanya low-base effect, di mana periode terlama Ramadan bergeser dari April pada tahun lalu menjadi Maret pada tahun ini. 

Selain itu, Josua memperkirakan Ramadan dan Lebaran  akan memperkirakan dampak dorong ke pertumbuhan ekonomi sebesar 0,14 hingga 0,25 poin persentase. 

Di sisi lain, Josua mengatakan bahwa laju inflasi yang dalam tren meningkat karena kenaikan harga pangan dapat menjadi hambatan bagi pertumbuhan ekonomi pada kuartal I/2024 karena dapat mengganggu daya beli masyarakat. 

Namun demikian, faktor tunjangan hari raya (THR), bonus, serta kenaikan gaji dapat menahan penurunan daya beli akibat inflasi, terutama bagi golongan masyarakat berpendapatan menengah.

Josua menyampaikan, untuk menjaga momentum pertumbuhan ke depan, pemerintah harus mulai mendesain kebijakan untuk membantu daya beli kelas menengah dan segera dapat menurunkan inflasi pangan.

“Karena jika tidak maka kemungkinan momentum Ramadan dan Lebaran di mana tidak hanya primer, melainkan konsumsi sekunder dan tersier akan naik, bisa menjadi terganggu karena faktor inflasi pangan,” jelasnya.

Dia menambahkan, sejumlah tantangan ekonomi ke depan adalah pengendalian inflasi pangan di tengah pasokan yang terganggu karena El Nino, cuaca ekstrem, dan terganggunya jalur distribusi.

 


Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News dan WA Channel

Penulis : Maria Elena
Konten Premium

Dapatkan informasi komprehensif di Bisnis.com yang diolah secara mendalam untuk menavigasi bisnis Anda. Silakan login untuk menikmati artikel Konten Premium.

Artikel Terkait

Berita Lainnya

Berita Terbaru

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

# Hot Topic

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Rekomendasi Kami

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Foto

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Scan QR Code Bisnis Indonesia e-paper