Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Aktivitas Pabrik RI Makin Berderu, Harga Produk Naik Tak Terjangkau

S&P Global mencatat PMI manufaktur RI yang melesat membuat harga jual produk naik di tengah aktivitas pabrik yang meningkat.
Aktivitas karyawan di salah satu pabrik di Jakarta, Jumat (20/9/2019). Bisnis/Arief Hermawan P
Aktivitas karyawan di salah satu pabrik di Jakarta, Jumat (20/9/2019). Bisnis/Arief Hermawan P

Bisnis.com, JAKARTA - Aktivitas pabrik di Indonesia mengalami peningkatan utilisasi pada Maret 2024. Sebab, permintaan domestik makin bergeliat dan memicu optimisme pengusaha untuk meningkatkan kapasitas produksi.

Laporan terbaru S&P Global menunjukkan seluruh industri manufaktur Tanah Air memperoleh pesanan baru dan menambah produksi untuk memenuhi kebutuhan yang naik tajam bulan ini.

Kinerja positif dari segi pesanan, produksi, hingga output barang ditandai dengan melesatnya level Purchasing Mananger's Index (PMI) pada Maret 2024 ke level 54,2 atau naik 1,5 poin dari bulan sebelumnya 52,7.

Pelaku usaha industri menyambut permintaan yang tinggi dengan meningkatkan pembelian bahan baku dan menambah inventaris sehingga berakibat pada kenaikan tajam biaya produksi dan harga jual produk.

Adapun, kenaikan total pesanan baru didorong oleh pasar domestik, sementara penjualan global atau eskpor masih mengalami kontraksi setelah stagnan pada Februari.

Economics Associate Director di S&P Global Market Intelligence, Pollyanna De Lima, mengatakan pemasok di sektor manufaktur RI menaikkan daftar harga jual pada Maret, menyebabkan kenaikan tajam pada keseluruhan beban biaya.

Dalam beberapa hal, tekanan biaya dihubungkan dengan pergerakan nilai tukar yang buruk. Penguatan permintaan membantu pengalihan kenaikan beban biaya kepada konsumen.

"Tingkat inflasi naik ke posisi tertinggi dalam 21 bulan dan melebihi rata-rata jangka panjang," Pollyanna dalam laporan S&P Global, dikutip Senin (1/4/2024).

Dia menyoroti optimismes beberapa perusahaan terhadap permintaan yang akan tetap membaik dalam beberapa bulan mendatang. Meski, beberapa perusahaan lainnya ragu kondisi tersebut dapat bertahan lebih lama.

"Beberapa perusahaan bersiap membeli input dan membangun inventaris, namun enggan merekrut karyawan tambahan karena tekanan kapasitas masih kecil untuk saat ini," ujarnya. 


Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News dan WA Channel

Konten Premium

Dapatkan informasi komprehensif di Bisnis.com yang diolah secara mendalam untuk menavigasi bisnis Anda. Silakan login untuk menikmati artikel Konten Premium.

Artikel Terkait

Berita Lainnya

Berita Terbaru

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

# Hot Topic

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Rekomendasi Kami

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Foto

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Scan QR Code Bisnis Indonesia e-paper