Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Lonjakan Harga Pangan Gerus Daya Beli Masyarakat, Ini Buktinya!

Ekonom mengungkapkan lonjakan harga pangan ternyata menggerus daya beli masyarakat.
Suasana Pasar Palmeriam, Matraman, Jakarta, Kamis (20/4/2023) - BISNIS/Indra Gunawan.
Suasana Pasar Palmeriam, Matraman, Jakarta, Kamis (20/4/2023) - BISNIS/Indra Gunawan.

Bisnis.com, JAKARTA – Kondisi perekonomian Indonesia pada kuartal I/2024 dinilai masih cukup baik, seiring dengan Indeks Keyakinan Konsumen yang terjaga pada zona optimistis pada Februari 2024.

Berdasarkan Survei Konsumen Bank Indonesia (BI), Indeks Keyakinan Konsumen (IKK) pada Februari 2024 tercatat sebesar 123,1, meski lebih rendah dari bulan sebelumnya yang sebesar 125,0.

Ekonom Makroekonomi dan Pasar Keuangan LPEM FEB UI Teuku Riefky mengatakan bahwa prospek pertumbuhan ekonomi secara keseluruhan diperkirakan tetap solid.

Hal ini terutama dipengaruhi oleh efek musiman yang mampu memacu aktivitas ekonomi dan daya beli masyarakat, yaitu Ramadan dan Lebaran. 

“Kondisi ekonomi Indonesia masih cukup baik karena masih berada di zona optimis, walaupun terdapat kekhawatiran di beberapa aspek seperti lapangan pekerjaan, penghasilan, dan daya beli,” katanya kepada Bisnis, Rabu (13/3/2024).

Namun demikian, Riefky mengatakan bahwa tantangan ekonomi yang masih perlu diwaspadai adalah tingginya laju inflasi pangan akibat El Nino.

“Ini tentu cukup signifikan dampaknya terhadap daya beli masyarakat, namun sejauh ini terlihat sudah mulai mereda tekanannya,” jelasnya.

Riefky berpendapat, untuk jangka pendek, pemerintah perlu menjaga stabilitas harga untuk menjaga IKK tetap berada pada zona optimis.

Senada dengan Riefki, Kepala Ekonom Bank Permata Josua Pardede menyampaikan bahwa lonjakan harga pangan merupakan salah satu faktor yang menyebabkan IKK Februari 2024 turun.

Sementara itu, Indeks Kondisi Ekonomi Saat Ini (IKE) tercatat turun pada seluruh indeks, diantaranya indeks penghasilan saat ini, indeks ketersediaan lapangan kerja, dan indeks pembelian barang tahan lama. Kondisi ini menurut Josua dipengaruhi oleh faktor inflasi pangan yang terus meningkat.

Selain itu, kenaikan gaji yang lebih rendah dari inflasi pangan dan adanya penerapan pajak penghasilan baru, yaitu tarif efektif rata-rata (TER) PPh 21 menyebabkan penghasilan terasa berkurang. 

“Berkurangnya pembelian durable goods yang merupakan jenis barang sekunder dan tersier juga wajar karena pangan merupakan barang primer yang jika harganya naik maka konsumen akan mengorbankan pembelian barang jenis lainnya,” kata Josua.

Dia menilai pemerintah harus segera menurunkan inflasi pangan. Pasalnya, jika inflasi pangan tidak terkendali, konsumsi sekunder dan tersier masyarakat bisa jadi terganggu pada momentum Ramadan dan Lebaran 2024


Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News dan WA Channel

Konten Premium

Dapatkan informasi komprehensif di Bisnis.com yang diolah secara mendalam untuk menavigasi bisnis Anda. Silakan login untuk menikmati artikel Konten Premium.

Artikel Terkait

Berita Lainnya

Berita Terbaru

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

# Hot Topic

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Rekomendasi Kami

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Foto

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Scan QR Code Bisnis Indonesia e-paper