Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Jelang Pemilu, Stok Beras Langka di Alfamart hingga Indomaret

Stok beras mulai langka di sejumlah ritel modern seperti Alfamart hingga Indomaret jelang pemilu 2024.
Rak beras terlihat kosong di Alfamidi kawasan Bogor. Stok beras langka di sejumlah ritel modern jelang Pemilu 2024. / BISNIS - Dwi Rachmawati
Rak beras terlihat kosong di Alfamidi kawasan Bogor. Stok beras langka di sejumlah ritel modern jelang Pemilu 2024. / BISNIS - Dwi Rachmawati

Bisnis.com, JAKARTA - Sejumlah gerai ritel modern seperti Indomaret hingga Alfamart terpantau mengalami kelangkaan stok beras premium. Pasokan terbatas dan harga yang tinggi disebut jadi biang keroknya.

Berdasarkan pantauan Bisnis.com di sejumlah gerai ritel modern seperti Alfamart, Aflamidi, Indomaret dan Superindo di wilayah Bogor terlihat kekosongan beras premium.

Terpantau rak yang seharusnya berisikan beras premium kemasan 5 kg dalam kondisi kosong. Hanya tersisa label bertuliskan pembatasan pembelian beras maksimal 2 pack per orang.

Salah seorang pramuniaga gerai Alfamidi, Yadi menyebut suplai beras mulai menipis sejak seminggu terakhir. Namun, kondisi semakin parah sejak tiga hari terakhir menurutnya suplai beras hanya terbatas 10 pack per hari.

"Beras kosong, cuma datang sedikit tadi pagi dan itu juga enggak lama langsung habis," ujarnya saat ditemui, Senin (12/2/2024).

Begitupun di gerai Indomaret bahkan sempat mengalami kekosongan stok dalam beberapa hari. Menurut pegawai Indomaret banyak masyarakat yang mencari beras di tengah kekosongan stok tersebut.

"Saya belum tau besok dateng atau enggak barangnya [beras]. Jadi belum pasti," jelas seorang penjaga gerai Indomaret.

Di gerai ritel modern yang lebih besar seperti Superindo, stok beras hanya tersisa beras khusus dengan harga tinggi. Misalnya seperti beras pandan wangi. Salah seorang pegawai Superindo mengatakan bahwa pasokan beras semakin tipis sejak harga beras di pasaran kian melonjak.

Di sisi lain, harga beras di ritel modern masih menggunakan patokan harga yang lama alias Harga Eceran Tertinggi (HET). Membuat sebagian pembeli memborong beras dengan jumlah maksimal pembelian yakni 2 pack per orang.

"Kalau di sini kalau belum ada arahan dari pusat naik [harga] enggak dinaikin. Kemarin begitu datang 4 palet langsung habis, itu juga dibatas belinya enggak boleh lebih dari 2," jelas salah seorang pegawai Superindo di Bogor.

Kemudian Bisnis.com mencoba survey stok beras premium ke gerai ritel tradisional dan mendapati kondisi yang sama. Stok beras premium hanya tersisa satu merek dengan kemasan 10 kg. Bahkan untuk kemasan 5 kg sudah ludes terjual.

"Dari kemarin banyak yang beli beras 5 kg, sekarang tinggal sisa ini aja. Stok udah enggak ada lagi," ujar Andri salah seorang penjaga toko sembako di kawasan Bogor.

Sebelumnya, Ketua Umum Asosiasi Pengusaha Ritek Indonesia (Aprindo), Roy Nicholas Mandey, mengatakan, peritel mulai kesulitan mendapatkan stok Beras jenis premium lokal dengan kemasan 5 kilogram lantaran para produsen telah menaikkan harga beli bahan pokok dan penting seperti beras, gula, hingga minyak goreng, di atas HET.

“Selama sepekan terakhir ini [harga beli sudah naik] sebesar 20%-35% dari harga sebelumnya,” kata Roy dalam keterangan resminya, Jumat (9/2/2024).

Roy menuturkan, peritel tidak dapat mengatur dan mengontrol harga yang ditentukan produsen bahan pokok dan penting, mengingat harga ditetapkan oleh produsen sebagai sektor hulu yang selanjutnya didistribusikan ke peritel di sektor hilir dan dibeli oleh masyarakat pada gerai ritel modern.

Saat ini, lanjut dia, peritel tidak memiliki pilihan dan harus membeli beras dengan harga di atas HET dari para produsen atau pemasok beras lokal. Berdasarkan informasi yang diterima Bisnis.com, harga beras yang dibeli peritel berkisar antara Rp15.100 hingga Rp15.500 per kilogram.

Adapun, pemerintah menetapkan HET beras medium sebesar Rp10.900 hingga Rp11.800 per kilogram untuk beras medium, sedangkan beras premium Rp13.900 hingga Rp14.800 per kilogram.

Para peritel pun khawatir kondisi ini dapat memicu kekosongan dan kelangkaan stok, yang berujung pada panic buying konsumen, yang akan berlomba dan menimbun bahan pokok dan penting.

“Bagaimana mungkin kami menjualnya dengan HET? Siapa yang akan menanggung kerugiannya? Siapa yang akan bertanggung jawab bila terjadi kekosongan dan kelangkaan bahan pokok dan penting tersebut pada gerai ritel modern kami, karena kami tidak mungkin membeli mahal dan menjual rugi,” jelasnya.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News


Penulis : Dwi Rachmawati
Konten Premium

Dapatkan informasi komprehensif di Bisnis.com yang diolah secara mendalam untuk menavigasi bisnis Anda. Silakan login untuk menikmati artikel Konten Premium.

Artikel Terkait

Berita Lainnya

Berita Terbaru

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

# Hot Topic

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Rekomendasi Kami

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Foto

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Scan QR Code Bisnis Indonesia e-paper