Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Ekspor Tumbuh, Surplus Neraca Perdagangan China Naik Jadi US$68,39 Miliar November 2023

Neraca perdagangan China mencatat surplus pada November 2023, menyusul ekspor yang meningkat 0,5%.
Pejalan kaki melintasi toko-toko di Guangzhou, China, Jumat, (11/8/ 2023). Bloomberg/qilai Shen
Pejalan kaki melintasi toko-toko di Guangzhou, China, Jumat, (11/8/ 2023). Bloomberg/qilai Shen

Bisnis.com, JAKARTA - Surplus neraca perdagangan China kembali melebar pada bulan November 2023, didorong oleh peningkatan ekspor untuk pertama kalinya dalam enam bulan terakhir dan penyusutan impor.

Menurut data bea cukai China pada Kamis (7/12/2023), surplus neraca perdagangan tumbuh menjadi US$68,39 miliar pada November 2023 dari $56,53 miliar di bulan sebelumnya. Angka ini lebih besar dari ekspektasi analis yang memperirakan surplus sebesar US$58 miliar.

Mengutip Reuters, Kamis (7/12/2023) ekspor China meningkat 0,5% pada November 2023 dibandingkan tahun sebelumnya, dibandingkan penurunan sebesar 6,4% pada Oktober 2023. Adapun ekspor bulan ini mengalahkan perkiraan penurunan sebesar 1,1%. 

Sedangkan impor mengalami penurunan yang tidak terduga. Impor pada November 2023 mencatatkan penurunan sebesar 0,6%, setelah mengalami kenaikan 3,0% pada Oktober 2023. 

Data manufaktur yang beragam pada November 2023 kemudian telah mempertahankan seruan untuk mendukung kebijakan lebih lanjut guna menopang pertumbuhan. Namun hal ini juga menimbulkan pertanyaan mengenai apakah survei-survei yang sebagian besar berbasis sentimen negatif telah menutupi perbaikan kondisi.

Indikator utama perdagangan global, Baltic Dry Index, telah naik ke level tertinggi dalam tiga tahun terakhir pada November 2023. Adapun hal ini didukung oleh peningkatan permintaan untuk komoditas industri, terutama dari China. 

Di lain sisi, ekspor Korea Selatan, yang juga merupakan salah satu ukuran kesehatan perdagangan global, naik dua bulan berturut-turut pada November 2023, yang didorong oleh ekspor chip. Hal tersebut mengakhiri penurunan selama 15 bulan. 

Para analis kemudian mengatakan bahwa terlalu dini untuk menyimpulkan apakah dukungan kebijakan terkini akan cukup untuk mendukung permintaan domestik, properti, pengangguran, dan lemahnya kepercayaan rumah tangga serta bisnis yang mengancam pemulihan yang berkelanjutan. 

Kemudian, para analis juga memperingatkan bahwa sektor manufaktur berjalan pada kecepatan yang beragam di berbagai industri. 

Dana Moneter Internasional (IMF) juga meningkatkan proyeksi pertumbuhan China pada 2023 dan 2024, dengan masing-masing sebesar 0,4%. 

Namun, berdasarkan catatan Bisnis, Moody’s Investors Service pada Selasa (5/12) menurunkan prospek obligasi China menjadi negatif. Adapun alasan pemangkasan karena meningkatnya penggunaan stimulus fiskal dan penurunan pasar properti. 


Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News dan WA Channel

Konten Premium

Dapatkan informasi komprehensif di Bisnis.com yang diolah secara mendalam untuk menavigasi bisnis Anda. Silakan login untuk menikmati artikel Konten Premium.

Artikel Terkait

Berita Lainnya

Berita Terbaru

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

# Hot Topic

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Rekomendasi Kami

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Foto

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Scan QR Code Bisnis Indonesia e-paper