Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Inflasi AS Naik, Ekspektasi The Fed Tahan Suku Bunga hingga Akhir 2023 Masih Rendah

Para pejabat The Fed masih belum mendapat cukup bukti kuat untuk tetap mempertahankan suku bunga acuan hingga akhir 2023.
Gedung Federal Reserve Marriner S. Eccles di Washington, D.C., AS, Mingg (10/4/2022). Bloomberg/ Tom Brenner
Gedung Federal Reserve Marriner S. Eccles di Washington, D.C., AS, Mingg (10/4/2022). Bloomberg/ Tom Brenner

Bisnis.com, JAKARTA - Para pejabat The Fed masih belum mendapat cukup bukti kuat untuk tetap mempertahankan suku bunga acuan hingga akhir 2023 meskipun inflasi dan data ekonomi lain memperkuat ekspektasi tersebut.

Data inflasi AS, tepatnya Indeks Harga Konsumen (IHK) telah dirilis pada Rabu malam kemarin (13/9/2023). Dari data tersebut, diketahui inflasi naik dengan laju tercepat dalam 14 bulan, sebagian besar didorong fluktuasi biaya energi. Bahkan, ukuran inflasi yang mendasarinya juga meningkat secara tidak terduga. 

Para ekonom percaya bahwa tren inflasi masih menguntungkan The Fed. Namun, bulan Agustus 2023 dapat menjadi kejutan yang akan membuat para pejabat cenderung memilih setidaknya satu kali kenaikan suku bunga tambahan, yang akan tercermin dalam proyeksi ekonomi baru pada akhir pertemuan mereka pada 19-20 September 2023 nanti. 

“[Pada pertemuan minggu depan] kami memperkirakan The Fed akan tetap menahan suku bunganya namun memberi sinyal kesediaan untuk menaikkan suku bunga lagi tergantung pada data,” jelas Kepala Ekonom Makroekonomi Pantheon, Ian Shepherdson, dikutip dari Reuters, Kamis (14/9). Pandangan ini sebagian besar juga dianut oleh investor.

Sejak pertemuan pada Juli 2023, hanya dua pejabat The Fed yang mengatakan bahwa suku bunga tidak perlu dinaikan lebih lanjut. Namun, yang lain mengatakan bahwa prospek untuk memperlambat inflasi didasarkan pada tingkat suku bunga dan dana federal yang lebih tinggi. 

Kemudian, sebagian besar informasi juga mengarah pada perekonomian yang melambat, namun masih tumbuh dengan berkurangnya tekanan harga, yakni soft landing yang diharapkan dapat direkayasa oleh para pembuat kebijakan. 

Banyak Keraguan

Laju pertumbuhan lapangan kerja dan upah telah melambat. Ukuran pasar tenaga kerja lain seperti tingkat pekerja yang berhenti dari pekerjaannya, pembukaan pekerjaan dan jumlah pengangguran per pekerjaan yang terbuka, mendekati tingkat yang terlihat sebelum pandemi Covid-19 mengganggu perekonomian. 

Survei kuartalan terbaru yang dilakukan oleh Business Roundtable terhadap para kepala eksekutif, menunjukan prospek ekonomi yang sedikit menurun. Ekspektasi terhadap perekrutan dan penjualan juga menurun. 

"Pertumbuhan lapangan kerja melambat, ada lebih sedikit lowongan pekerjaan, hari kerja lebih pendek, tingkat pengunduran diri lebih rendah, dan pertumbuhan upah menurun," jelas kepala ekonom di Apollo Global Management, Torsten Slok. 

Slok juga mengungkapkan bahwa akibat dampak suku bunga yang lebih tinggi, hal ini lebih dirasakan oleh perusahaan-perusahaan  dan rumah tangga, yang menjadi fakta jelas contohnya dalam peningkatan tingkat kenakalan dan gagal bayar. Data makro juga akan melemah. 

Kredit perbankan secara keseluruhan juga telah menurun dari tahun ke tahun sejak pertengahan Juli 2023. Ini menjadi bukti bahwa perusahaan keuangan memperkatat akses melalui suku bunga yang tinggi atau dengan meningkatkan standar. 

Ketua The Fed Jerome Powell juga mengatakan bahwa perlunya penurunan pertumbuhan ekonomi secara keseluruhan, ke tingkat di bawah tren yang akan menambah kepercayaan diri para pembuat kebijakan bahwa inflasi akan melanjutkan penurunan berkelanjutan sejak musim panas 2022, yakni ketika mencapai level tertinggi dalam 40 tahun terakhir. 

Secara umum, para pejabat The Fed berpendapat perekonomian dapat tumbuh sekitar 1,8 persen per tahun, dengan inflasi pada target 2 persen, serta mengasumsikan hal tersebut sebagai kebijakan moneter yang tepat. 

Namun, jika melihat produk domestik bruto (PDB) AS pada kuartal terakhir, tumbuh lebih cepat dengan 2,1 persen per tahun. Para ekonom Goldman Sachs melihat laju tersebut meningkat hingga lebih dari 3 persen pada kuartal III/2023. 

Prospek tersebut kemudian mengurangi prospek resesi AS, namun mungkin akan tetap menjaga kekhawatiran The Fed tentang tingginya inflasi. 

Risiko yang terus berkembang seperti kemungkinan terjadinya pemogokan para pekerja otomotif dan penutupan pemerintahan federal AS, mungkin memerlukan kehati-hatian dalam arah lain.

Kepala Ekonom AS di TS Lombard, Stevel Blitz, mengatakan bahwa pesan dari data IHK pada Agustus 2023 adalah bahwa tanpa perlambatan pertumbuhan dan tingginya pengangguran, maka tidak akan ada kemungkinan kembalinya inflasi inti sebesar 2 persen sebagai tren. 

"Pertanyaan untuk The Fed adalah apakah suku bunga 5,5 persen cukup untuk memperlambat perekonomian secara memadai... Faktanya, ada cukup banyak keraguan untuk membuat The Fed melewatkan bulan September, namun membiarkan semua orang tahu bahwa bulan November dapat memberikan kenaikan lagi,” jelasnya. 


Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News dan WA Channel

Konten Premium

Dapatkan informasi komprehensif di Bisnis.com yang diolah secara mendalam untuk menavigasi bisnis Anda. Silakan login untuk menikmati artikel Konten Premium.

Artikel Terkait

Berita Lainnya

Berita Terbaru

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

# Hot Topic

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Rekomendasi Kami

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Foto

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Scan QR Code Bisnis Indonesia e-paper