Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Ini Dampak Ketegangan Geopolitik dan Dedolarisasi di Asia Pasifik Menurut Moody's

Laporan Moody’s Investor Service menjelaskan dampak dari ketegangan AS dan China di Asia Pasifik, terutama dalam pergeseran penggunaan dolar.
Monitor menampilkan nama Moodys Corp./ Bloomberg - Michael Nagle
Monitor menampilkan nama Moodys Corp./ Bloomberg - Michael Nagle

Bisnis.com, JAKARTA - Ketegangan yang terjadi antara Amerika Serikat (AS) dan China dapat mempercepat menurunnya pangsa dolar AS dalam perdagangan dan arus pendanaan Asia-Pasifik

Hal tersebut diungkapkan dalam laporan Moody’s Investor Service, Selasa (6/6/2023), yang menjelaskan bahwa risiko geopolitik kedua negara mencerminkan adanya ‘batasan’ regional dalam perdagangan, keuangan, dan juga teknologi. 

Berdasarkan rangkuman laporan tersebut, secara keseluruhan implikasi kredit dari perubahan ini baik bagi pemerintah daerah, lembaga keuangan dan perusahaan cenderung beragam.

Moody's mengungkapkan perpindahan dari penggunaan dolar dapat merangsang pertumbuhan pasar obligasi mata uang lokal dan mengurangi risiko nilai tukar. 

"Namun jika permintaan lebih besar terhadap likuiditas yang langka, kemungkinan besar biaya pembiayaan lintas sektor akan naik dan menekan sektor swasta," ungkap Moody's dalam laporannya.

Selain itu, negara-negara Asia-Pasifik berpotensi menghadapi likuiditas yang lebih ketat dan biaya pendanaan yang tinggi dari pergeseran penggunaan dolar AS.

Ekonomi negara Asia-Pasifik secara umum telah mengurangi ketergantungan pada pendanaan utang dalam dolar, namun bergantung pada dolar untuk pengenaan tagihan perdagangan dan pengelolaan cadangan. 

Dalam hal ini, emiten pasar perbatasan paling berpotensi terkena dampak dari akses pasar dolar yang berkurang dan pasar domestik yang ‘dangkal’.

Moody's juga mengungkapkan ketegangan geopolitik dan sanksi lintas negara dapat menghambat pergerakan bebas modal. Kemampuan bank juga menghambat untuk mengamankan pendanaan dolar yang andal dan stabil. 

Lembaga keuangan juga perlu menghadapi perubahan strategi pelanggan korporasi, terutama pada sektor sensitif yang menjadi pusat persaingan geopolitik seperti semikonduktor. 

Moody's menjelaskan respons perusahaan terhadap ketegangan yang terjadi akan mendorong mereka untuk menggeser penggunaan dolar dan pembiayaan perdagangan di negara-negara Asia Pasifik. Hal ini dapat berdampak pada bisnis bank. 

Kemudian, penerbitan obligasi mata uang regional yang likuid seperti dolar Hong Kong dan yen Jepang yang pertumbuhannya terhenti selama pandemi berpotensi muncul kembali. 

Bank-bank pembangunan multilateral (MDB) akan menjadi penggerak utama pembiayaan proyek jangka panjang. Di antaranya banyak yang menggunakan dengan dolar AS. 

Namun, dengan munculnya MDB baru dan inisiatif pinjaman bilateral yang mencerminkan kepentingan ekonomi negara-negara berkembang, hal ini dapat meningkatkan persaingan mengingat peran pemerintah sebagai pemegang saham di MDB utama. 


Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News dan WA Channel

Konten Premium

Dapatkan informasi komprehensif di Bisnis.com yang diolah secara mendalam untuk menavigasi bisnis Anda. Silakan login untuk menikmati artikel Konten Premium.

Artikel Terkait

Berita Lainnya

Berita Terbaru

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

# Hot Topic

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Rekomendasi Kami

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Foto

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Scan QR Code Bisnis Indonesia e-paper