Cari berita
Bisnis.com

Konten Premium

Bisnis Plus bisnismuda Koran Bisnis Indonesia tokotbisnis Epaper Bisnis Indonesia Konten Interaktif Bisnis Indonesia Group Bisnis Grafik bisnis tv

Pabrik Ramai-Ramai Pindah ke Jateng, Bagaimana Nasib Daerah yang Ditinggalkan?

Tren relokasi pabrik industri padat karya ke Jateng memiliki dampak ke daerah yang ditinggalkan.
Widya Islamiati
Widya Islamiati - Bisnis.com 25 Mei 2023  |  23:30 WIB
Pabrik Ramai-Ramai Pindah ke Jateng, Bagaimana Nasib Daerah yang Ditinggalkan?
Pekerja di pabrik garmen - Bisnis.com

Bisnis.com, JAKARTA –  Angka pengangguran di Indonesia berpotensi akan meningkat sebagai imbas dari pemindahan pabrik-pabrik industri padat karya di kawasan industri sekitar Jakarta ke daerah dengan upah minimum kota/kabupaten (UMK) yang relatif lebih rendah sejak 2022 lalu.

Dalam catatan Bisnis pada Selasa (7/2/2023) sebanyak 14 pabrik garmen di Jawa Barat, tepatnya di Bogor dan Purwakarta mengancam akan memindahkan basis produksinya imbas dari tingginya upah yang harus dibayarkan.

Sebelumnya, pada 2022 lalu Gubernur Jawa Tengah Ganjar Pranowo juga menyebutkan bahwa provinsi yang dipimpinnya itu menerima pindahan 97 perusahaan sepanjang Januari hingga awal Desember 2022.

Ekonom Center of Reform on Economics (CORE) Yusuf Rendy Manilet menuturkan relokasi ini bisa menimbulkan naiknya angka pengangguran di daerah yang ditinggalkan. Terlebih jika tidak adanya lapangan pekerjaan lain yang bisa menyerap tenaga kerja yang dirumahkan akibat relokasi pabrik.

Terlebih menurutnya sektor manufaktur atau industri padat karya memiliki kontribusi penyerapan tenaga kerja yang cukup diperhitungkan.

“Iya jika ternyata, kota yang ditinggalkan tidak dapat menciptakan lapangan kerja melalui sektor lapangan usaha lainnya,” tutur Yusuf saat dihubungi Bisnis pada Kamis (25/5/2023).

Namun, Yusuf menambahkan hal tersebut tidak akan terjadi jika di kota tersebut tersedia lapangan pekerjaan baik di sektor yang sama maupun di sektor lain, termasuk pekerjaan yang bersifat informal.

Menurut Yusuf, sektor informal umumnya akan dipilih oleh tenaga kerja yang baru kehilangan pekerjaannya sebagai masa transisi menunggu lapangan pekerjaan formal tersedia. 

“Kemungkinan pekerja yang kehilangan pekerjaanya akan memilih sektor informal untuk bekerja, sebagai upaya untuk survive sebelum nantinya mereka kembali masuk ke lapangan kerja,” tambah Yusuf.

Dengan demikian, Yusuf menyebut peningkatan angka kasus pengangguran memang akan terjadi di kota yang ditinggalkan perusahaan untuk merelokasi usahanya, tetapi hal tersebut hanya akan berlangsung dalam jangka waktu yang singkat.

Berbeda dengan Yusuf, Direktur Eksekutif Asosiasi Persepatuan Indonesia (Aprisindo) Firman Bakri menyampaikan, relokasi pabrik ini tidak hanya akan berdampak pada meningkatnya angka pengangguran di kota yang ditinggalkan, tetapi juga berdampak pada pertumbuhan ekonomi kota tersebut.

“Karena selama ini, sebanyak 27 persen dari devisa ekspor alas kaki yang diterima dalam bentuk gaji pasti akan selalu habis dibelanjakan oleh karyawan, dan belanja karyawan inilah yang sebagian kemudian menjadi penggerak ekonomi daerah,” kata Firman pada Rabu (24/5/2023).

Meskipun di sisi kota yang jadi tujuan relokasi akan mendapat investasi baru dari pabrik padat karya yang dibuat. Ini menurutnya kemudian akan berdampak pada pertumbuhan ekonomi kota tersebut.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

relokasi pabrik industri padat karya garmen alas kaki
Editor : Annisa Sulistyo Rini

Artikel Terkait



Berita Lainnya

    Berita Terkini

    back to top To top