Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Wilmar Jawab Tudingan soal Dongkrak Harga Beras dan Matikan Penggilingan Kecil

Wilmar buka suara soal tudingan menjadi penyebab merosotnya penggilingan padi kecil hingga isu penimbunan untuk mendongkrak harga beras.
Wilmar/asosiasigulaindonesia.org
Wilmar/asosiasigulaindonesia.org

Bisnis.com, JAKARTA - Perusahaan besutan Wilmar Group, PT Wilmar Padi Indonesia (WPI) menjawab tudingan menjadi penyebab makin merosotnya penggilingan padi dalam industri padi/beras di Indonesia. WPI menyebut tanpa mereka masuk pun, industri beras Indonesia akan merosot dengan sendirinya.

Presiden Direktur PT WPI, Saronto, mengatakan sebelumnya ada sekitar 150.000 penggilingan skala menengah-besar di Indonesia dan saat ini hanya 50 persen yang hidup.

Menurutnya, penyebab merosotnya industri beras di Indonesia disebabkan produktivitas pertanian di Indonesia rendah dibandingkan negara-negara lain. Sehingga berdampak pada harga beras yang mencapai dua kali lipat lebih mahal dibanding negara-negara tetangga penghasil beras.

“Wilmar di sini disalahkan, kenapa kita dianggap mematikan industri padi. Ketika kita tidak masuk pun itu akan mati juga, karena kita tidak bisa bersaing dengan petani luar. Harga beras di Thailand setengah dari Indonesia, [mereka] produktivitasnya tinggi,” kata Saronto saat jumpa pers di Jakarta, Selasa (28/3/2023).

Dia mengakui jika dengan hadirnya WPI sejak 2018 mengguncang industri perberasan nasional. Pasalnya, dengah kiprah WPI, Saronto mengatakan petani dapat memperoleh harga gabah dengan layak. Selama ini, pabrik penggilingan banyak yang membeli gabah dengan harga murah.

“Industri A membeli petani gabah Rp3.800. Nggak ada saingan mereka. Dengan ada Wilmar masuk memang mengguncang pasar," tuturnya.

Menurut Saronto, WPI saat ini membeli gabah dengan rata-rata Rp5.600-Rp5.800 per kg. Dia membantah anggapan jika WPI membeli gabah petani dengan harga tinggi.

“Kita sebut harga fair kepada petani rakyat Indonesia. Kita mau petani sehahtera tapi kita pengen harga murah? Mereka udah panas-panasan tapi hasil dengan yang minim. Wilmar tidak membeli dengan tinggi, tapi fair,” ungkapnya.

Terkait tingginya harga beras saat ini, Saronto menjelaskan jika hal tersebut lantaran produksi beras nasional memang menurun beberapa tahun ini. Hal tersebut dikarenakan cuaca ekstrem selain juga pasokan dan tingginya harga pupuk.

“Kalau tanaman dikurangin [pupuk] pasti produksi turun. Di samping juga beberapa lokasi ada serangan hama. Yang menurut kami produksi tahun ini dibanding tahun lalu kurang,” ujarnya.

Selain itu, Saronto membantah jika produsen beras merek Sania itu kerap menimbun beras agar harga tinggi.

“Wilmar sebenarnya tidak pernah timbun beras ataupun gabah. Beras yang kita produksi langsung distribusikan ke pasar baik modern maupun tradisional. Jadi sama sekali tak ada indikasi Wilmar timbun. Jika ditimbun kan akan rusak kualitas berasnya, ada kutu dan lain lain,” jelasnya.

WPI sendiri saat ini mempunyai 4 pabrik penggilingan beras yaitu di Mojokerto, Ngawi dan ada dua pabrik lagi di Palembang dan Sumatra Utara. Kapasitasnya cukup besar, yakni menyerap 1 juta ton gabah atau 500.000 ton beras per tahun jika dikonversikan.

Lebih lanjut, Saronto mengklaim masuknya Wilmar ke industri beras karena ingin ikut berkontribusi terhadap swasembada pangan nasional. Jika hanya menyasar keuntungan, dia mengklaim WPI hingga saat ini masih belum memiliki keuntungan.

“Kita kembalikan kepada petani kelebihan [keuntungan] itu. kita [mungkin] baru 7-8 tahun kembali keuntungannya. Kita misinya menyejahterakan petani. Swasemabada supaya terus, 5-10 tahun ke depan tetap swasembada,” ungkapnya.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News


Penulis : Indra Gunawan
Konten Premium

Dapatkan informasi komprehensif di Bisnis.com yang diolah secara mendalam untuk menavigasi bisnis Anda. Silakan login untuk menikmati artikel Konten Premium.

Artikel Terkait

Berita Lainnya

Berita Terbaru

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

# Hot Topic

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Rekomendasi Kami

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Foto

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Scan QR Code Bisnis Indonesia e-paper