Cari berita
Bisnis.com

Konten Premium

Bisnis Plus bisnismuda Koran Bisnis Indonesia tokotbisnis Epaper Bisnis Indonesia Konten Interaktif Bisnis Indonesia Group Bisnis Grafik bisnis tv

Ancaman Resesi Global, Rantai Pasok Nasional Makin Urgen

Pengembangan rantai pasok barang dan komoditas nasional perlu dilakukan secara sinergis, baik antar kementerian/lembaga, maupun pemerintah pusat dan daerah
Lorenzo Anugrah Mahardhika
Lorenzo Anugrah Mahardhika - Bisnis.com 23 Januari 2023  |  11:47 WIB
Ancaman Resesi Global, Rantai Pasok Nasional Makin Urgen
ilustrasi. Aktivitas bongkar muat peti kemas di pelabuhan Tanjung Priok, Jakarta, Rabu (22/6/2022). Bisnis - Eusebio Chrysnamurti
Bagikan

Bisnis.com, JAKARTA – Pengembangan rantai pasok (supply chain) nasional perlu dilakukan secara komprehensif oleh semua pemangku kepentingan untuk menjaga kegiatan ekonomi di Indonesia dan mengurangi ketergantungan dari luar.

Chairman Supply Chain Indonesia (SCI) Setijadi menuturkan perlambatan ekonomi dan ancaman resesi global mulai berimbas ke Indonesia. Hal ini terlihat dari penurunan ekspor pada kuartal IV/2022 karena penurunan permintaan dari sejumlah negara yang mengalami resesi.

Data Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat setelah mengalami nilai tertinggi pada Agustus 2022 sebesar US$27,86 miliar, nilai ekspor Indonesia turun berturut-turut pada empat bulan berikutnya hingga pada Desember 2022 sebesar US$23,83 miliar.

Menurut Setijadi potensi resesi dan laju inflasi global dapat menurunkan daya beli masyarakat dan menekan perekonomian nasional. Seiring dengan hal tersebut, pengembangan rantai pasok barang dan komoditas nasional perlu dilakukan.

Pengembangan dan penguatan rantai pasok itu harus dilakukan secara sinergis, baik antar kementerian/lembaga, maupun antara pemerintah pusat dan pemerintah daerah. Pemetaan rantai pasok suatu komoditas harus secara end-to-end dilengkapi dengan perancangan sistem logistik yang sesuai,” jelas Setijadi dikutip dari keterangan resminya, Senin (23/1/2023)

Dia melanjutkan, kolaborasi dan sinergi juga diperlukan antara penyedia dan pengguna jasa logistik seperti perusahaan manufaktur dan retailer, serta operator infrastruktur logistik seperti pelabuhaan dan bandara, untuk menjamin kelancaran proses distribusi barang dan komoditas.

Pengembangan rantai pasok yang baik akan mendorong produktivitas dan daya saing produk dan komoditas, baik secara nasional maupun global. Hal ini juga akan mengurangi ketergantungan terhadap rantai pasok global yang memiliki ketidakpastian yang semakin tinggi sebagai dampak resesi.

Setijadi mengungkapkan Sistem Logistik Ikan Nasional (SLIN) dari Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) merupakan contoh pengembangan rantai pasok komoditas yang baik. SLIN ditetapkan dengan Peraturan Menteri Kelautan dan Perikanan (Permen KP) No. 58/2021 dan diperbarui Permen KP No. 5/2014.

SCI mengapresiasi KKP yang mengembangkan SLIN sebagai turunan dari Sistem Logistik Nasional (Sislognas) yang ditetapkan dengan Perpres 26/2012 tentang Cetak Biru Pengembangan Sistem Logistik Nasional. Hingga saat ini, KKP merupakan satu-satunya kementerian yang menurunkan Sislognas menjadi sistem logistik berbasis komoditas yang ditetapkan dengan peraturan menteri.

“Kami mendorong kementerian-kementerian lain untuk mengembangkan rantai pasok dan sistem logistik komoditas sesuai dengan ruang lingkupnya masing-masing, terutama Kementerian Pertanian, Kementerian Perindustrian, dan Kementerian Perdagangan,” pungkasnya.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Simak Video Pilihan di Bawah Ini :

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

rantai pasok supply chain
Editor : Rio Sandy Pradana
Bagikan

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Lainnya

Berita Terkini

back to top To top