Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Maju Mundur Pengembang Properti Terapkan PLTS Atap di Proyek Residensial

Penggunaan PLTS atap masih menjadi pertimbangan para pengembang properti untuk diterapkan dalam proyek residensial secara menyeluruh
Ilustrasi petugas membersihkan PLTS atap./Istimewa
Ilustrasi petugas membersihkan PLTS atap./Istimewa

Bisnis.com, JAKARTA - Biaya pemasangan pembangkit listrik tenaga surya (PLTS) atap yang terlampau tinggi menjadi penyebab permintaan terhadap perangkat panel surya di sektor residensial masih rendah.

Sebagian pengembang masih enggan untuk berinvestasi dengan menerapkan PLTS atap dalam proyek hunian. Di sisi lain, fitur tersebut mulai dipasang pada hunian untuk kelas menengah ke atas.

Adapun, pemerintah tengah menggodok revisi Peraturan Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) No.26/2021 tentang PLTS atap yang Terhubung pada Jaringan Tenaga Listrik Pemegang IUPTL untuk Kepentingan Umum.

Aturan tersebut diklaim dapat mendorong inisiatif masyarakat untuk pemasangan panel surya dengan melepas batasan kapasitas PLTS terpasang. Namun, di sisi lain skema kspor listrik yang semula sebagai pengurang tagihan listrik akan dihapus. 

Direktur Keuangan PT Metropolitan Land Tbk. (MTLA) Olivia Surodjo menilai aturan tersebut tak begitu menarik. Dia menuturkan, saat ini proyek residensial Metland belum memasang PLTS atap, sebab belum ada permintaan khusus dari konsumen.

"Untuk residensial pemakaian listriknya lebih banyak di malam hari, sementara yang siang harinya tidak bisa diekspor, ini yang mengurangi minat konsumen untuk menggunakan PLTS atap," kata Olivia kepada Bisnis, dikutip Senin (23/1/2023).

Terlebih, harga panel surya dan biaya pemasangannya dinilai cukup mahal, sementara kelebihan listrik yang dihasilkan oleh panel surya tidak bisa digunakan sebagai pengurang tagihan listrik.

Alih-alih PLTS atap sebagai implementasi energi terbarukan, proyek Metland lebih memproritaskan proyek hunian berkonsep green development, yakni salah satunya di perumahan Metland Cibitung.

Proyek tersbeut juga merupakan kawasan transit oriented development (TOD) yang terhubung langsung dengan KRL commuterline Stasiun Metland Telaga Murni.

Stasiun tersebut diklaim dapat berkontribusi mengurangi emisi karbon, sekaligus menerapkan water treatment plant (WTP) atau instalasi pengolahan air limbah yang dapat digunakan kembali oleh warga sebagai air bersih untuk kebutuhan sehari-hari.

Di sisi lain, Direktur PT Ciputra Development Tbk. (CTRA) Harun Hajadi mengatakan, pihaknya telah memasang PLTS atap dalam proyek hunian secara bertahap.

Hal tersebut menjadi langkah perusahaan untuk berkontribusi dalam mewujudkan sustainable housing yang ramah lingkungan. Instalasi PLTS atap berlaku untuk proyek Ciputra dengan harga dikisaran Rp1 miliar ke atas.

"Ya, rumah-rumah yang menengah ke atas sudah kami masukkan PLTS secara bertahap karena conversion rates-nya masih belum sesuai harapan, masih belum efisien. Lama kelamaan menurut saya akan lebih baik, dan secara bertahap nantinya semua rumah akan ada PLTS nya," jelasnya.

Adapun, pihaknya menggunakan kaca coating low-e glass (low-emissivity glass), yaitu kaca dengan emisivitas rendah sehingga mampu menyaring panas matahari. Dampaknya, ruangan tidak akan begitu panas dan penggunaan AC lebih minim.


Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News dan WA Channel

Konten Premium

Dapatkan informasi komprehensif di Bisnis.com yang diolah secara mendalam untuk menavigasi bisnis Anda. Silakan login untuk menikmati artikel Konten Premium.

Artikel Terkait

Berita Lainnya

Berita Terbaru

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

# Hot Topic

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Rekomendasi Kami

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Foto

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Scan QR Code Bisnis Indonesia e-paper