Cari berita
Bisnis.com

Konten Premium

Bisnis Plus bisnismuda Koran Bisnis Indonesia tokotbisnis Epaper Bisnis Indonesia Konten Interaktif Bisnis Indonesia Group Bisnis Grafik bisnis tv

Smelter Freeport Terbesar di Dunia, Modal Kuat Transisi Energi

Teknologi energi terbarukan dan kendaraan listrik akan mengerek permintaan produk mineral tembaga. Smelter Freeport pun menjadi kian penting buat Indonesia.
Maria Yuliana Benyamin
Maria Yuliana Benyamin - Bisnis.com 13 Januari 2023  |  13:39 WIB
Smelter Freeport Terbesar di Dunia, Modal Kuat Transisi Energi
Progres pembangunan smelter kedua milik Freeport Indonesia di Gresik, Jawa Timur telah mencapai 51,7 persen pada 2022 - Bisnis/Maria Benyamin

Bisnis.com, GRESIK- Pembangunan proyek smelter PT Freeport Indonesia atau PTFI berbarengan dengan tren transisi energi terbarukan dan penggunaan kendaraan listrik. Tren teknologi tersebut bakal meningkatkan permintaan produk mineral, khususnya tembaga.

Keberadaan smelter yang mengolah tembaga, emas, hingga perak milik PTFI secara langsung bakal menyangga Indonesia sebagai pemasok kebutuhan transisi energi global. Tembaga semakin diburu manufaktur otomotif, mengingat kendaraan listrik membutuhkan produk mineral itu empat kali lebih banyak dibandingkan produk otomotif konvensional.

Tidak hanya itu, berbagai fasilitas pembangkit berbasis energi terbarukan juga lebih banyak membutuhkan tembaga. Sehingga, secara lagsung proses transisi energi yang digalang negara-negara di dunia bakal mengerek permintaan produk mineral.

Melihat momentum itu, Presiden Direktur PTFI Tony Wenas mengapresiasi langkah Pemerintah Indonesia yang bergerak cepat mendukung pembangunan smelter.

“Jika saat ini produksi tembaga sebagian besar masih diekspor, dengan keberadaan ekosistem EV [electric vehicle], maka kelak diserap lebih banyak di dalam negeri. Tembaga itu base metal yang lebih banyak digunakan ke depan,” ungkapnya pada acara “Kunjungan Pimpinan Redaksi ke Smelter PTFI”, Jumat (13/1/2023).

Keberadaan smelter yang ditarget secara fisik rampung pada akhir tahun ini merupakan pijakan bagi Indonesia memainkan peran penting dalam rantai pasok global ke depan. Pasalnya, tegas Tony, smelter kedua milik PTFI ini merupakan yang terbesar di dunia.

Bahkan, pembangunan smelter ini sempat disangsikan banyak pihak, terutama para investor luar negeri. “Dengan progres pembangunan yang mencapai 51,7 persen hingga akhir 2022, kami optimistis ke depannya, pasti mereka [asing] berdatangan,” tegas Tony.

Langkah strategis pembangunan smelter dan penguasaan kepemilikan Freeport oleh Indonesia itupun sejalan dengan strategi pada sisi hilir. Semisal, jelas Tony, saat bersamaan pemerintah mendesain berbagai kebijakan guna membangun ekosistem EV yang juga membutuhkan tembaga, nikel, alumina dari bauksit yang meruakan mineral utama dari Indonesia.

“Jadi memang ini already on the right track untuk kemudian menciptakan suatu ekosistem EV Kalau itu memang bisa terbentuk dan saya yakin, ya dengan semua upaya yang kita lakukan bersama pemerintah, ini bisa tercapai, dan apabila tercapai kita akan menjadi sumber atau main destination atau main sources of the electric battery,” tukas Tony.

Secara keseluruhan, PTFI telah menganggarkan investasi senilai US$3 miliar atau setara Rp45 triliun untuk pembangunan seluruh fasilitas smelter. Selain pemurnian tembaga yang bisa mengolah 1,7 juta ton konsentrat per tahun, fasilitas PTFI itupun dilengkapi pemurnian emas dan perak.

Fasilitas smelter PTFI pun ditunjang dengan kehadiran dua pelabuhan. Bahkan satu pelabuhan khusus didedikasikan bagi operasional smelter.

 

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Simak Video Pilihan di Bawah Ini :

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

smelter Smelter Nikel pabrik smelter Freeport freeport indonesia Kendaraan Listrik
Editor : Kahfi

Artikel Terkait



Berita Lainnya

    Berita Terkini

    back to top To top