Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Hingga Akhir 2022, Progres Smelter Freeport Lampaui Target 50 Persen

Pembangunan smelter kedua Freeport di Gresik, Jawa Timur telah menelan investasi sekitar Rp25 triliun hingga akhir tahun lalu.
Presiden Direktur PTFI Tony Wenas saat memberikan penjelasan dalam acara "Kujungan Pimpinan Redaksi ke Smelter Gresik", Jumat (13/1/2023)/Bisnis-Maria
Presiden Direktur PTFI Tony Wenas saat memberikan penjelasan dalam acara "Kujungan Pimpinan Redaksi ke Smelter Gresik", Jumat (13/1/2023)/Bisnis-Maria

Bisnis.com, GRESIK- Pembangunan fasilitas pemurnian atau smelter milik PT Freeport Indonesia atau PTFI di Gresik, Jawa Timur telah mencapai 51,7 persen, dan menelan investasi sekitar US$1,63 miliar setara Rp25 triliun.

Presiden Direktur PTFI Tony Wenas mengungkapkan perkembangan pembangunan smelter tersebut 9 persen dari target 51,8 persen yang ditetapkan pemerintah. Terhitung sejak pembangunan diresmikan Presiden Joko Widodo pada Oktober 2021, PTFI mengebut proyek smelter.

“Dari sekitar 200 tiang pancang pada 2021 saat presiden meresmikan, sekarang 100 persen telah berdiri tiang pancang sebanyak 18 ribu tiang,” ungkapnya pada kegiatan kunjungan pemimpin redaksi ke fasilitas smelter, pada Jumat (13/1/2023).

Tony menjelaskan di samping pemurnian tembaga yang bisa mengolah 1,7 juta ton konsentrat per tahun, fasilitas PTFI itupun dilengkapi pemurnian emas dan perak. “Selain itu terdapat refinery untuk lumpur anoda emas dan perak yang tergolong platina,” ungkapnya.

Fasilitas smelter PTFI pun ditunjang dengan kehadiran dua pelabuhan. Bahkan satu pelabuhan khusus didedikasikan bagi operasional smelter.

Dengan realisasi pembangunan tersebut, Tony optimistis pengerjaan smelter bakal tepat waktu. Rencananya, pembangunan fisik seluruh fasilitas smelter ditarget rampung pada akhir tahun ni.

“Awal 2024, pre commissioning. Mulai beroperasi pada Mei tahun depan, sedangkan commercial operating date bisa akhir 2024,” jelasnya.

Untu menyelesaikan proyek ini, PTFI memperkirakan investasi yang dibutuhkan sekitar US$3 miliar, setara Rp4 triliun. Keberhasilan pembangunan smelter ini akan menjadikan Indonesia sebagai pemilik tambang bawah tanah sekaligus pemurnian mineral terbesar di dunia.

“Dengan keberadaan smelter ini, seluruh konsentrat tembaga dari Papua akan diolah di dalam negeri,” tegas Tony.

Tidak hanya itu, dia mengungkapkan pembangunan smelter ini memiliki arti strategis buat Indonesia. Pasalnya, sejauh ini banyak negara di dunia membutuhkan lebih banyak pasokan mineral tembaga dalam menuju transisi energi.

"Ke depan, ada perkiraan terjadi kekurangan suplai dunia. Situasi ini akan menguntungan Indonesia, PTFI berkontribusi 7 persen [suplai]," simpul Tony.

 

 

 


Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News dan WA Channel

Editor : Kahfi
Konten Premium

Dapatkan informasi komprehensif di Bisnis.com yang diolah secara mendalam untuk menavigasi bisnis Anda. Silakan login untuk menikmati artikel Konten Premium.

Artikel Terkait

Berita Lainnya

Berita Terbaru

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

# Hot Topic

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Rekomendasi Kami

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Foto

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Scan QR Code Bisnis Indonesia e-paper