Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Penjualan Rumah di Kuartal III/2022 Turun 14 Persen, Ini Penyebabnya

Penjualan properti per kuartal III/2022 yang menurun 4 persen dari kuartal sebelumnya, seiring antisipasi konsumen terhadap prospek perekonomian.
Pekerja beraktivitas di proyek pembangunan perumahan subdisi di kawasan Ciseeng, Kabupaten Bogor, Jawa Barat, Sabtu (15/1/2022). Bisnis/Arief Hermawan P
Pekerja beraktivitas di proyek pembangunan perumahan subdisi di kawasan Ciseeng, Kabupaten Bogor, Jawa Barat, Sabtu (15/1/2022). Bisnis/Arief Hermawan P

Bisnis.com, JAKARTA- Persatuan perusahaan Realestat Indonesia (REI) mengungkap laporan kinerja penjualan properti per kuartal III/2022 yang menurun 4 persen dari kuartal sebelumnya.

Wakil Ketua Umum DPP REI Hari Ganie mengatakan sejak pandemi Covid-19 bisnis properti masih tertahan, sebab 2 tahun pandemi memicu penurunan hingga 50 persen.

"Puncaknya itu di kuartal II kemarin tumbuh sampai 18 persen, tapi data yang kami peroleh terakhir kuartal III itu penjualan properti turun ke 14 persen," kata Hari saat dihubungi Bisnis, Senin (31/10/2022).

Sebelumnya, dia menjelaskan, dengan kondisi ekonomi makro yang pulih bisnis properti pun ikut mengalami performa positif. Sejalan dengan itu, pertumbuhan ekonomi Indonesia per kuartal II/2022 sebesar 5,4 persen.

Selain itu, stimulus pemerintah yang dirilis tahun lalu yaitu Pajak Pertambahan Nilai Ditanggung Pemerintah (PPN DTP) mendorong sektor properti untuk tumbuh hingga 18 persen.

"Dirilisnya laporan kuartal tiga kemarin dimana ada pertumbuhan penjualan 14 persen itu kita mengingatkan lagi kepada pemerintah, bahwa perpanjangan dari insentif PPN DTP itu harus dilakukan oleh pemerintah, kalau nggak properti bisa babak belur," ujarnya.

Adapun penurunan dari kuartal sebelumnya diklaim karena konsumen atau pembeli rumah mulai mempertimbangkan kondisi ekonomi tanah air ke depannya. Hal ini dipicu imbauan pemerintah untuk bersiap di tahun 2023 ekonomi akan gelap dan ada ancaman resesi.

Selanjutnya, insentif PPN DTP yang berakhir pada September 2022 lalu tidak lagi diperpanjang oleh pemerintah sampai saat ini. Sentimen menjelang tahun politik hingga hambatan perizinan buntut dari UU Cipta Kerja menjadi akumulasi perlambatan pertumbuhan properti.

Di sisi lain, dia meyakini bahwa saat ini pengembang masih optimis untuk melanjutkan bisnis properti pasalnya suplai tengah melimpah. Hal ini dibuktikan dengan banyaknya pameran properti di 10 ibu kota provinsi, juga pameran di Jakarta.

"Kemudian, optimisme kita masih tinggi karena milenial masih banyak yang butuh rumah," tambahnya.


Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News dan WA Channel

Editor : Kahfi
Konten Premium

Dapatkan informasi komprehensif di Bisnis.com yang diolah secara mendalam untuk menavigasi bisnis Anda. Silakan login untuk menikmati artikel Konten Premium.

Artikel Terkait

Berita Lainnya

Berita Terbaru

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

# Hot Topic

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Rekomendasi Kami

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Foto

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Scan QR Code Bisnis Indonesia e-paper