Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

AP I Tawarkan Klaster-klaster Bandara Ini ke Investor di Side Event G20

PT Angkasa Pura I (Persero) atau AP I menawarkan peluang kerja sama kepada sejumlah calon investor pada klaster-klaster bandara yang dikelola oleh perseroan.
Suasana terminal kedatangan bandara I Gusti Ngurah Rai, Bali pada Senin (7/3/2022) pada hari pertama uji coba bebas karantina PPLN/Bisnis-Wibi Pangestu. 
Suasana terminal kedatangan bandara I Gusti Ngurah Rai, Bali pada Senin (7/3/2022) pada hari pertama uji coba bebas karantina PPLN/Bisnis-Wibi Pangestu. 

Bisnis.com, JAKARTA – PT Angkasa Pura I (Persero) atau AP I menawarkan peluang kerja sama kepada sejumlah calon investor dalam agenda side event G20, SOE International Conference.

Direktur Utama AP I Faik Fahmi membagi klaster bandara yang dikelola oleh perseroan menjadi sebanyak empat klaster. Klaster pertama merupakan bandara yang dikelompokkan sebagai International Tourism and Super Hub yang meliputi Bandara I Gusti Ngurah Rai Bali, Bandara Internasional Lombok, dan Bandara El Tari Kupang. Ketiga bandara tersebut diproyeksikan sebagai pintu gerbang utama pariwisata Indonesia bagi pelaku pariwisata internasional.

"Klaster kedua merupakan klaster International Transit and Industrial Hub, yang terdiri atas dua subklaster, yaitu subklaster International Transit dan Industrial Hub," ujar Faik, Rabu (19/10/2022).

Bandara Internasional Yogyakarta Kulon Progo, Bandara Adisutjipto Yogyakarta, Bandara Adi Soemarmo Surakarta, dan Bandara Jenderal Ahmad Yani Semarang termasuk dalam subklaster International Transit Hub, sedangkan untuk subklaster Industrial Hub diisi oleh Bandara Juanda Surabaya.

Klaster ketiga merupakan New Capital Gateway yang terdiri atas bandara yang diproyeksikan akan menopang lalu lintas udara Ibu Kota Negara Baru, yaitu Bandara SAMS Sepinggan Balikpapan dan Bandara Syamsudin Noor Banjarmasin.

Sementara itu, klaster keempat merupakan klaster Eastern Gateway and East Asia Export Gateway yang terdiri atas dua sub klaster, yaitu Eastern Gateway yang berisikan Bandara Sultan Hasanuddin Makassar, Bandara Frans Kaisiepo Biak, dan Bandara Pattimura Ambon, serta subklaster East Asia Export Gateway yang terdiri atas Bandara Sam Ratulangi Manado dan Bandara Sentani Jayapura.

"Bandara-bandara yang kami kelola juga cukup diverse dengan fungsi bandara sebagai pintu gerbang daerah pariwisata, industri, dan kawasan bisnis. Hal ini merupakan nilai jual yang kami rasa cukup menarik di mata calon investor," kata Faik.

Tercatat Angkasa Pura I saat ini mengelola 15 bandara dengan karakteristik tiap bandara yang disesuaikan dengan potensi yang dimiliki oleh masing-masing daerah. Seperti misal, Bandara I Gusti Ngurah Rai, Bandara Internasional Lombok, dan Bandara Internasional Yogyakarta merupakan pintu gerbang daerah pariwisata unggulan. Sementara itu, untuk Bandara Sultan Hasanuddin Makassar dan Bandara Sentani Jayapura merupakan bandara hub dan memiliki potensi trafik kargo di kawasan Indonesia Timur yang sangat besar.

"Saat ini, total kapasitas penumpang di bandara yang kami kelola hingga 143 juta penumpang per tahun," katanya.

Direktur Pengembangan Usaha PT Angkasa Pura I Dendi T. Danianto menilai calon investor yang hadir memiliki antusias dan minat yang beragam terhadap klaster-klaster yang ditawarkan. Hal ini seiring dengan kredibilitas Angkasa Pura I dalam melakukan kerja sama strategis dengan mitra internasional.

“Keberhasilan Angkasa Pura I dengan Incheon International Airport Corporation dalam Proyek KPBU Hang Nadim Batam merupakan portfolio yang dapat menumbuhkan kepercayaan Calon Investor untuk melakukan kerja sama strategis pada klaster-klaster yang kami tawarkan,” imbuh Dendi.

Adapun, perusahaan calon investor yang hadir dalam sesi presentasi bisnis tersebut antara lain, Tony Blair Foundation, ING Bank, Astra Infra, JPMorgan, Skyview Construction, ITOCHU Corporation, Whitesky Facility, GMR Group, dan Malaysia airports.

Sementara itu, dari segi performa keuangan perusahaan, pada periode 2015-2019, Angkasa Pura I bergasil membukukan rata-rata pertumbuhan pendapatan perusahaan hingga 13 persen dan rata-rata marjin EBITDA hingga 38 persen.

Dendi menuturkan, AP I berhasil bertahan hidup selama masa pandemi dan tengah berada dalam jalur positif dalam pemulihan performa keuangan perusahaan pascapandemi.

"Dengan keunggulan-keunggulan yang kami miliki tersebut, kerja sama strategis dengan calon investor dan mitra usaha akan semakin meningkatkan performa operasional dan keuangan perusahaan di masa mendatang," tekannya.


Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News dan WA Channel

Konten Premium

Dapatkan informasi komprehensif di Bisnis.com yang diolah secara mendalam untuk menavigasi bisnis Anda. Silakan login untuk menikmati artikel Konten Premium.

Artikel Terkait

Berita Lainnya

Berita Terbaru

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

# Hot Topic

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Rekomendasi Kami

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Foto

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Scan QR Code Bisnis Indonesia e-paper