Cari berita
Bisnis.com

Konten Premium

Bisnis Plus bisnismuda Koran Bisnis Indonesia tokotbisnis Epaper Bisnis Indonesia Konten Interaktif Bisnis Indonesia Group Bisnis Grafik bisnis tv

Produksi Jagung Disebut Surplus, Peternak: Mengapa Masih Mahal?

Komite Tetap Peternakan Kadin Indonesia Tri Hardiyanto menyebut pelaku usaha terbebani dengan harga jagung yang dibeli peternak sebesar Rp5.000.
Indra Gunawan
Indra Gunawan - Bisnis.com 06 Oktober 2022  |  15:30 WIB
Produksi Jagung Disebut Surplus, Peternak: Mengapa Masih Mahal?
/Bisnis
Bagikan

Bisnis.com, JAKARTA--Pelaku usaha mengeluhkan harga jagung yang dibelinya untuk pakan dalam beberapa tahun ini dianggap terlalu tinggi, yaitu di atas Rp5.000 per kilogram (kg). Dengan tingginya harga jagung, surplus jagung nasional dipertanyakan kebenarannya.

Komite Tetap Peternakan Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Indonesia Tri Hardiyanto mengatakan, dengan harga jagung yang dibeli peternak sebesar Rp5.000, pelaku usaha merasa terbebani. Apalagi, kata dia, harga ayam ras di tingkat peternak saat ini harganya anjlok yaitu Rp13.000-Rp15.000 per kg, jauh di bawah harga yang ditetapkan pemerintah Rp21.000 per kg.

“Pada 2021 tidak pernah di bawah Rp5.000. Sepanjang tahun lalu Rp5.000 sampai Rp5.700. Desember kemudian naik lagi karena stok sudah mulai menipis. Begitu juga pada tahun ini juga selalu di atas Rp5.000,” ujar Tri dalam acara FGD Nasional: Transformasi Industri Jagung Nasional untuk Mewujudkan Ketahanan Pangan dan Peningkatan Ekonomi Nasional yang diselenggarakan Kadin di Jakarta, Kamis (6/10/2022).

Tri menyampaikan, akibat harga jagung untuk pakan tersebut tinggi, dirinya pada awal tahun 2022 dipanggil oleh Presiden Joko Widodo ke Istana Negara. Dalam pertemuan tersebut, pihaknya tidak meminta harga jagung di bawah yang ditetapkan pemerintah yaitu Rp4.500 per kg, namun tidak lebih dari Rp5.000 per kg.

“Saya cuma sampaikan begini ke Pak Jokowi, peternak tidak harus Rp4.500, tapi cukup dengan antara Rp4.500-Rp5.000 per kg,” ujar Tri menyampaikan aspirasinya ke presiden.

Badan Pangan Nasional (NFA) menyampaikan produksi jagung nasional untuk pakan ternak pada 2022 akan mengalami surplus sehingga aman untuk kebutuhan dalam negeri. Dalam catatan Bapanas, produksi jagung periode Januari-September 2022 surplus di kisaran 2,3 juta ton hingga 2,5 juta ton.

Karena dianggap surplus tersebut, Kemenko Perekonomian pun memutuskan untuk membolehkan ekspor jagung sebesar 100.000 ton oleh pihak swasta yang hanya diizinkan selama 3 bulan, yakni September-November 2022.

Akan tetapi, menurut Tri, apabila memang produksi jagung surplus seharusnya harga jagung tidak mungkin terus bertengger di atas Rp5.000 per kg. Padahal, kata dia, daerahnya diapit oleh Jawa Timur dan Lampung yang merupakan sentra jagung.

“Jatim sentra terbesar, kedua lampung. Jadi kan kita diapit, tapi gak ada jagungnya. Ada kelangkaan tapi sebentar. Setelah itu, harganya tinggi terus. Tapi bukan mudah juga. Keadaannya begitu,” tutur Tri.

Di sisi lain petani jagung asal Sumbawa, Nusa Tenggara Barat, Muklis mengaku jagung di daerahnya harganya menukik tajam, yakni Rp3.800 per kg. Selain murah, penyerapan jagung pun sangat sulit sehingga berton-ton jagung terbengkalai di gudang-gudang.

Dia pun membeberkan, dengan anjloknya harga jagung tersebut penghasilan petani di Sumbawa saat ini hanya Rp2,5 juta per bulan.

“Kami meminta pemerintah untuk menyerap. Karena jika kita petani di Sumbawa tidak dibeli tapi bagaimana nasib kami? Karena di gudang-gudang menumpuk. Bisa dicek ke sini. Makanya kami meminta agar pemerintah buka keran ekspor jagung,” ujar Muklis dalam acara FGD Kadin tersebut.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Simak Video Pilihan di Bawah Ini :

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

jagung pangan harga jagung
Editor : Denis Riantiza Meilanova
Bagikan

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Lainnya

Berita Terkini

back to top To top