Cari berita
  • facebook
  • twitter
  • instagram
  • youtube
Bisnis.com

Konten Premium

Epaper Bisnis Indonesia tokotbisnis Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group bisnis tv bisnismuda

Mulai Tahun 2023, Biaya Service Charge dan Sewa Mal Naik 5-10 Persen

Seiring pemulihan kunjungan ritel modern, pengelola pusat belanja sendiri akan menaikkan service charge dan sewa sekitar 5-10 persen.
Indra Gunawan
Indra Gunawan - Bisnis.com 29 September 2022  |  13:11 WIB
Mulai Tahun 2023, Biaya Service Charge dan Sewa Mal Naik 5-10 Persen
Suasana sebuah pusat perbelanjaan di Kota Bandung, Jawa Barat, Rabu (19/5/2021) - Antara
Bagikan

Bisnis.com, JAKARTA- Asosiasi Pengelola Pusat Belanja Indonesia (APPBI) mengungkapkan para pelaku usaha mulai menaikan biaya sewa mal dan service charge kepada peritel mulai tahun depan. Kenaikan itu berdasarkan beberapa pertimbangan, salah satunya tingkat kunjungan yang sudah mendekati pulih seperti sebelum pandemi Covid-19.

Ketua APPBI Alphonzus Wijaya menyatakan pengelola pusat belanja sendiri akan menaikkan service charge dan sewa sekitar 5-10 persen. Menurutnya, kenaikan tersebut relatif bijak, sebab pengelola pusat belanja sudah hampir 3 tahun tidak manaikkan service charge dan sewanya kepada tenan.

“Hampir 3 tahun tidak naik, makanya beban pusat belanja sangat berat. Bahkan ada defisit, ada pusat belanja yang diamabil alih, makanya sudah waktunya menaikkan service charge dan sewa,” ujar Alphonzus dalam diskusi virtual, Rabu (28/9/2022).

Dia membeberkan tingkat kunjungan mal pada tahun ini sangat signifikan pertumbuhannya dibandingkan tahun lalu dan awal pandemi pada 2020. Hal itu dimulai dari libur Idul Fitri dan dibolehkannya mudik oleh pemerintah setelah 2 tahun.

“Ini membuat sentiment positif pada kunjungan belanja. Bahkan beberapa pusat belanja seperti sudah normal sebelum pandemi. Ramai sekali. Ini menggembirakan. Ini masa-masa pemulihan,” ujar Alphonzus.

Menurut catatan APPBI, tingkat kunjungan pada 2022 hampir 90 persen. Padahal, pada 2020 hanya 50 persen, 2021 naik jadi 60 persen. Alphonzus menyebut, peningkatan ini seiring dengan berhasilnya Indonesia meredam wabah Covid-19.

Dengan pertumbuhan tersebut, dia yakin peritel atau tenant tidak akan terbebani dan langsung menaikkan harga jualnya pasca kenaikan ini. “Jadi tidak hanya tingkat kunjungan mal, tapi penjualan yang meningkat. Meski ada kenaikan [harga] pun tidak akan tinggi, hanya 5-10 persen,” imbuhnya.

Selain itu, ujar Alphonzus, kenaikan tersebut juga dipengaruhi oleh kenaikan suku bunga Bank Indonesia jadi 4,25 persen. Akibatnya, akan mempengaruhi pada proses pembangunan pusat belanja dan tentunya sisi operasional. Alhasil, beban ini mau tidak mau berdampak pada kenaikan service charge dan sewa.

“Ini akan ada perhtungan berubah, dari sisi finansial karena suku bunga pinjaman akan naik. Ada dua langkah, memperlambat proses pembangunan, atau juga value engineering, bagaimana strategi konsusmsi bisa lebih efisien agar mengcover kenaikan suku bunga,” tutur dia.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Simak Video Pilihan di Bawah Ini :

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

pusat perbelanjaan belanja pusat belanja ritel ritel modern emiten ritel
Editor : Kahfi
Bagikan

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Lainnya

Berita Terkini

back to top To top